Ketika kemenangan dimaknai kebenaran
Yang tersisa hanya lagu kesombongan
Mereka menari, memuja dirinya sendiri
Sambil berteriak, merasa yang paling suci
Namun mereka lupa
Sejarah menulis dengan tinta luka
Tentang kebohongan yang tersembunyi
Yang akan dibawa sampai mati
Ironisnya merasa hebat
Dengan tepuk tangan para penjilat
Meski dalam hati mereka tahu
Ada lembaran rahasia yang menunggu
Sadarilah, kawan!
Tak ada yang abadi
Engkau pun akan jadi sasaran
Sesama penjilat pada hari ini
Apalagi kelak
Setelah lahir generasi bijak
Mereka pasti tahu
Perbedaan mutiara dengan batu
Lakukan, apa yang hendak kaulakukan
Mumpung bisa berdiri di panggung depan
Tapi ingat, setiap ikatan persekongkolan
Selalu menyisakan sejumlah persoalan
Malang, 18 Juni 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Rezza Gustya dan Riska Damayanti Nahkodai PMII STISIP Guna Nusantara: Semangat Baru dari RTK ke-VII untuk Pergerakan Masa Depa
PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur Gelar RTK Ke-VII, Perkuat Kesatuan dan Kaderisasi
Analisis Dampak Potensial Konflik Iran-Israel, Ancaman Ekonomi Global dan Lokal
Kerusakan Citra Raja Ampat Akibat Tambang Nikel: Ancaman bagi "Surga Terakhir di Bumi"
Saatnya Memberi "Titik Tekan" pada Upaya Meragamkan Pola Makan
KH Abbas Abdul Jamil Buntet, Selangkah Menuju Pahlawan Nasional
Mitos Kelangkaan Berlian: Mengungkap Strategi di Balik Kilau Harga
Menanam Cabai di Rumah, Hobi Menyenangkan dan Hasil Menguntungkan
Makan Enak Tapi Tetap Harus Menjaga Asupan Gizi Kunci Hidup Sehat
Mutiara Pagi: Dengan Pagi (Bagian 1874)