Oleh: Dahlan Iskan
Minggu 09-02-2025
Pejabat pemerintah pun sulit: mau hadir yang di mana. Akhirnya menjadi gampang: tidak perlu ada yang dihadiri. Padahal sudah jadi tradisi --sejak zaman Pak Harto-- presiden hadir di setiap Hari Pers Nasional (HPN) tanggal 9 Februari.
HPN memang identik dengan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Maka ketika PWI-nya pecah, HPN-nya juga kembar. Kebetulan tanggal yang dipilih sebagai Hari Pers Nasional adalah tanggal lahirnya PWI.
Bukan soal PWI-sentris, melainkan lahirnya PWI itu sebagai simbol perjuangan bangsa melawan Belanda di bidang pers. Maka sangat memalukan bahwa perpecahan juga melanda PWI.
Salah satu tokoh sentral PWI sepuluh tahun terakhir adalah nama ini: Ilham Bintang. Ia tokoh PWI sejak di PWI Jakarta. Ia pemilik media Check&Recheck.
Karena Ilham tidak mendukung Henry Ch Bangun (berdarah Karo) maka Henry kalah di pemilhan ketua umum. Waktu itu Ilham mendukung Atal Depari (juga berdarah Karo).
Di pemilihan lima tahun kemudian, Atal kalah dari Henry karena Ilham balik mendukung Henry.
Di saat Henry jadi ketua umum Ilham tidak lagi mendukung Atal maupun Henry. Ilham kini mendukung Zulmansyah Sekedang, tokoh PWI Riau yang kabarnya juga masih berdarah Karo. Jadilah Zulmansyah ketua umum PWI hasil kongres luar biasa PWI tahun lalu.
Sebaliknya Henry masih merasa menjadi ketua umum yang sah. Jadilah PWI kembar. Pecah.
Kantor pusat PWI di Gedung Pers Jalan Kebun Sirih Jakarta disegel oleh pemiliknya: Dewan Pers. Kursi keanggotaan PWI di Dewan Pers dikosongkan. PWI kehilangan banyak hal.
Tentu PWI kembar juga menjalar ke provinsi-provinsi. Belum ke semuanya tapi sudah mulai terasa.
Saya tidak tahu HPN yang mana yang lebih meriah. Saya hadir di HPN yang di Banjarmasin karena diminta jadi pembicara seminar masa depan media di sana.
Saya lihat ada gerak jalan, ada penganugerahan piala Adinegoro, dan jamuan makan malam di rumah dinas Gubernur Kalsel Muhidin.
Seorang menteri yang dekat dengan Presiden Prabowo hadir di Kalsel: Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Di acara jamuan makan malam di rumah dinas gubernur, Fadli memberi sambutan yang banyak mendapat tepuk tangan.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Guillotine (Bagian 1765)
Kisah Nyata yang Menginspirasi: Teruslah Berbuat Kebaikan
Mutiara Pagi: Nalar politik (Bagian 1766)
Komitmen Bersama Serap Gabah dan Beras
Kisah Penyelundupan Nikel dan Terbongkarnya Cara Main Jokowi
Penundaan Bantuan Pangan/Beras
Budaya Indonesia Hadir di Jeddah Arab Saudi
Membersamai Wakil Ketua LD PBNU, Komitmen PAC GP Ansor Karangtengah Cianjur Kawal Kiai
Mutiara Pagi: Suara Pers (Bagian 1767)
MA YAPISNA Gelar PKKM: Evaluasi dan Pengembangan Madrasah Jadi Fokus Utama