Strategi Memperkuat Keharmonisan Sosial di Era Disrupsi Digital

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 27 Desember 2024 | 19:47 WIB
Lahir di era digital seperti sekarang ini, Gen Z sedang menghadapi tantangan besar dalam memasuki dunia kerja. (sugenghartono.ac.id)
Lahir di era digital seperti sekarang ini, Gen Z sedang menghadapi tantangan besar dalam memasuki dunia kerja. (sugenghartono.ac.id)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Dalam dinamika interaksi sosial, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan logika atau kemampuan berpikir yang brilian.

Lebih dari itu, ada elemen yang jauh lebih penting, yakni etika dan tata krama dalam bertutur kata, baik dalam lisan maupun tulisan.

Kehidupan yang harmonis dan bermartabat tidak terwujud semata-mata karena kehebatan intelektual atau keindahan kata-kata yang tersusun dengan cerdas, tetapi karena adanya penghormatan yang tulus terhadap nilai-nilai moral dan adab.

*Sipakalebbi*, sebuah filosofi luhur dari masyarakat Bugis-Makassar, menjadi pengingat akan pentingnya penghormatan dalam setiap interaksi.

Konsep ini mengajarkan bahwa saling memuliakan bukanlah sekadar norma sosial, tetapi sebuah landasan untuk menjaga keimanan, keharmonisan, dan kesinambungan hubungan antarmanusia.

Dalam tradisi ini, berbicara santun dan menyapa dengan penghormatan adalah bagian dari akhlak yang mendekatkan seseorang kepada Allah sekaligus merekatkan hubungan sosial. Allah SWT berfirman:
وَقُل لِعِبَادِي يَقُولُوا ٱلَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.'"
(QS. Al-Isra: 53)

Firman ini menegaskan bahwa tata cara bertutur bukan hanya persoalan duniawi, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab spiritual. Sebuah kata yang lembut mampu menghangatkan hati, memperbaiki hubungan, dan menjadi jalan menuju keberkahan.

Sebaliknya, kata-kata yang kasar atau tidak beretika, meskipun sarat logika dan intelektual, sering kali melukai perasaan dan memicu konflik.

Dalam era digital yang serba cepat, di mana media sosial menjadi ruang utama komunikasi, nilai Sipakalebbi semakin relevan.

Teknologi memudahkan manusia untuk bertukar pikiran, tetapi sering kali mengabaikan aspek-aspek penting seperti penghormatan, kesantunan, dan tata krama. Komentar pedas, kritik yang kasar, atau ucapan yang tidak pantas dengan mudah tersebar, menciptakan jurang pemisah yang mengancam keharmonisan sosial. Rasulullah SAW.bersabda:
الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
"Perkataan yang baik adalah sedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa pilihan kata yang baik bukan hanya bentuk adab, tetapi juga ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam setiap ucapan yang santun, terselip pahala yang memperkuat hubungan sosial sekaligus menjaga keimanan.

Sipakalebbi menempatkan etika dan tata krama di atas kehebatan berpikir dan kecerdasan intelektual.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X