Namun, perbatasan ini tampaknya lebih sempit dibandingkan deskripsi dalam Bujangga Manik. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah Sunda mengalami penyusutan seiring waktu.
Evolusi Batas Wilayah Sunda-Galuh
Dari berbagai sumber, tampak bahwa batas wilayah Sunda-Galuh dan wilayah Jawa mengalami perubahan seiring zaman:
• Abad ke-7 M: Citarum sebagai batas utama antara Sunda dan Galuh.
• Abad ke-15 M: Cipamali menjadi penanda perbatasan budaya Sunda-Jawa.
• Abad ke-16 M: Cimanuk menjadi perbatasan Sunda-Jawa menurut Tome Pires.
Naskah-naskah kuno ini tak hanya menggambarkan pembagian wilayah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana peradaban Sunda dan Jawa saling berbatasan dan berinteraksi.
Sejarah batas ini bukan sekadar cerita geografis, tetapi juga refleksi dari dinamika budaya, politik, dan agama di masa lalu.
Artikel Terkait
Senyum: Bahasa Tanpa Kata, Amal Tanpa Batas, Makna Multidimensional
Mutiara Pagi: HAM (Bagian 1706)
Perilaku Kontroversial dan Provokatif dalam Masyarakat
Jelang Nataru, Polres Indramayu Gelar Razia Miras
Kick Off Meeting Perencanaan dan Forum Satu Data Cianjur
Tjiandjoer dalam Perang Konvoi, 9 Desember 1945
Mutiara Pagi: Keterbatasan (Bagian 1707)
Cerita Jaka Tingkir
Dakwah di Asia Tenggara
SMK Awards 2024 Berlangsung Sukses dan Lancar