Sunda dan Galuh: Jejak Kerajaan Kembar Penerus Tarumanagara

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 11 Desember 2024 | 11:40 WIB

Journalnusantara.com, Bogor - Sejarah Nusantara mencatat kemunculan Kerajaan Sunda dan Galuh sebagai dua kerajaan yang kerap disebut “Kerajaan Kembar.” Keduanya dianggap sebagai penerus Kerajaan Tarumanagara, yang berubah wajah pada tahun 670 M setelah Sang Tarusbawa mengubah nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.

Tak lama setelah itu, wilayah timur memisahkan diri menjadi Kerajaan Galuh yang mandiri. Meski begitu, informasi tentang kehidupan awal kedua kerajaan ini masih minim dan menyisakan banyak misteri.

Salah satu daya tarik sejarah kedua kerajaan adalah pembagian wilayah kekuasaan dan peran Sungai Citarum sebagai penanda batas. Untuk memahami lebih dalam, kita perlu merujuk pada naskah-naskah kuno seperti Carita Parahyangan dan Bujangga Manik, serta catatan penjelajah seperti Tome Pires.

Pembagian Wilayah Berdasarkan Carita Parahyangan

Naskah Carita Parahyangan, yang ditemukan di Museum Nasional Jakarta dengan kode Kropak 406, memberikan gambaran tentang pembagian wilayah pada masa awal kedua kerajaan. Dalam salah satu bagiannya, disebutkan:

“Wilayah Danghyang Guru berada di tengah (Gunung Galunggung dan sekitarnya), wilayah Rahyang Isora di timur dengan batas utara di Paraga (Kali Progo sekarang) hingga Sungai Cilotiran, sedangkan wilayah Tohaan di Sunda berada di barat Sungai Citarum.”

Penulis naskah ini menggambarkan bagaimana Citarum menjadi batas antara Kerajaan Sunda-Pajajaran di barat dan Galuh di timur. Pada abad ke-7 M, ini mencerminkan pembagian budaya: wilayah Sunda di barat Citarum dan wilayah Galuh hingga Kali Progo di timur.

Yang menarik, Sanjaya tokoh sentral dalam naskah ini mewarisi wilayah-wilayah strategis di Jawa:
1. Kalingga: Dikuasai oleh Sanjaya.
2. Galuh-Sunda: Diserahkan kepada Tamperan.
3. Galunggung: Berada di bawah Resi Demunawan.
4. Wilayah Timur: Paralor dan Cilotiran menjadi kekuasaan Iswara Narayana.

Sayangnya, nama Sungai Cilotiran kini tak lagi diketahui. Namun, menurut penelusuran, letaknya kemungkinan di utara Jawa Tengah dengan muara ke Laut Jawa.

Jejak Perjalanan Bujangga Manik

Sumber lain yang menggambarkan batas wilayah adalah naskah Bujangga Manik. Dalam naskah ini, tokoh utama seorang pangeran yang menjadi petapa melakukan perjalanan suci dari Pakuan Pajajaran hingga ke ujung Jawa Timur. Ia mencatat perbatasan budaya antara Sunda dan Jawa, yakni di Sungai Cipamali (sekarang Kali Pamali di Brebes).

Sebelum melintasi perbatasan ini, Bujangga Manik menyebutkan tempat-tempat suci seperti Arega Jati dan Jalatunda. Arega Jati, yang mungkin merujuk pada sebuah bukit keramat, adalah simbol spiritual gunung Mahameru dalam kepercayaan Hindu-Sunda.

Pandangan Tome Pires tentang Perbatasan Sunda dan Jawa

Pada abad ke-16, penjelajah Portugis Tome Pires mencatat bahwa perbatasan antara Sunda dan Jawa berada di Sungai Cimanuk (kini mengaliri Indramayu hingga Garut).

Dalam Suma Oriental, ia menggambarkan bagaimana sungai ini memisahkan dua budaya yang seolah berasal dari pulau berbeda, meskipun berada di satu daratan yang sama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X