Menurut Denny, langkah ini realisasi dari niat yang telah Denny JA tanam lebih dari tiga dekade lalu. Ketika ia masih seorang mahasiswa dengan beasiswa di Pittsburgh University, Amerika Serikat, Denny sering menghabiskan waktunya di Carnegie Library.
Andrew Carnegie, seorang industrialis besar, mendanai pembangunan lebih dari 2.500 perpustakaan di seluruh dunia.
Filosofinya sederhana namun mendalam: pengetahuan adalah kekayaan yang harus dibagikan. Carnegie percaya bahwa dengan memberikan akses terhadap perpustakaan, ia membantu masyarakat memperbaiki nasibnya sendiri.
Denny JA, yang saat itu berada dalam kondisi ekonomi menengah bawah, merasa terinspirasi.
Dalam satu momen, Denny merenung mendalam dan berdoa. Dalam doa yang sunyi, ia berkata pada dirinya sendiri, “Jika suatu saat aku diberi rezeki, aku ingin melakukan sesuatu yang berharga, sesuatu yang memberi kembali rezeki itu kepada masyarakat luas.”
Namun, ia tak terbayang dari mana dana untuk itu? Selaku mahasiswa, hidupnya sangat sederhana. Tanpa beasiswa, mustahil ia bisa sekolah hingga ke Amerika Serikat.
Namun Denny meyakini bahwa semesta selalu menyediakan keajaiban. Seperti setiap benih yang memerlukan musimnya untuk tumbuh, niat itu tidak langsung terwujud.
Sekitar lebih sepuluh tahun lalu, Denny mendirikan yayasan. Tetapi tetap ia belum tahu bentuk derma apa yang bisa ia beri. Sumber dananya juga masih samar.
Hingga Januari 2024, dalam keheningan malam yang penuh refleksi, Denny menemukan jawaban: passion-nya dalam dunia penulisan adalah jalan yang diberikan semesta.
Dana abadi untuk penghargaan ini berasal dari kepemilikan saham Denny JA Foundation di berbagai usaha yang ia kelola.
Melalui mekanisme ini, yayasan memiliki dana yang cukup untuk mendanai penghargaan tahunan bagi penulis, festival puisi esai, dan kegiatan literasi lainnya. Denny terus mengupayakan bahwa visi ini akan terus hidup selama puluhan tahun ke depan.
Denny memberi contoh tentang efek Hadiah Nobel Sastra bagi dunia penulis. Ketika seorang penulis menerima Nobel, ia menjadi simbol universal. Itu suara lokal yang diangkat ke panggung dunia.
Efeknya menjangkau jauh, membuka pintu untuk karya-karya dari budaya yang sering kali terpinggirkan. Ia juga mengilhami generasi baru untuk menulis. Ia juga mengingatkan kita akan kekuatan sastra dalam memahami kemanusiaan.
Denny mengambil spirit itu dan melakukan hal yang jauh, jauh, jauh lebih kecil, tentu saja.
Penghargaan untuk penulis ini bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi sebuah pesan. Menulis adalah pekerjaan sunyi yang potensial mencerahkan lingkungan. Penghargaan ini menjadi salah satu pupuk untuk ikut menumbuhkan tradisi menulis.
Artikel Terkait
Karakter Busuk vs Akhlak Mulia
Analisis Sisi Negatif dalam Kehidupan Individu dan Masyarakat
Jalan Menuju Kedekatan Ilahi dan Pencerahan Jiwa
Mutiara Pagi: Dengan Pena (Bagian 1703)
Mutiara Pagi: Tak Lebih, Tak Kurang (Bagian 1704)
Alasan Semua Kereta Wajib Berhenti di Stasiun Cipeundeuy
Gandeng PMII STISIP Guna Nusantara, Yayasan Lima Pemuda Pergerakan Galang Donasi Bencana
Ada Jalan Lain ke Surga: Memahami Kebaikan di Tengah Kesibukan Duniawi
Mencari Manusia Seutuhnya
Mutiara Pagi: Harkodia (Bagian 1705)