Journalnusantara.com - Cut Gambang berhasil lolos. Namun Cut Nyak Dien, yang tidak mampu lagi melawan ataupun melarikan diri, tetap menolak untuk menyerahkan diri secara baik-baik.
Pang Laot Ali turun tangan untuk mendekati Cut Nyak Dien. Sebelum bisa mendekat, ia terkena murka dari sosok yang dihormatinya itu
"Kamu pengkhianat busuk! Lebih baik kau kasihani aku dengan menikamku mati," ucap Cut Nyak Dien. Meski tidak rela menyerah, Cut Nyak Dien yang tidak berkutik lagi akhirnya dibawa Belanda ke Banda Aceh.
Cut Nyak Dien akhirnya diasingkan hingga akhir hayatnya ke Sumedang, Jawa Barat, karena Belanda takut keberadaannya di Banda Aceh akan membangkitkan perlawanan dari rakyat yang masih setia kepadanya.
Sebagai prajurit yang setia menemani Cut Nyak Dien dalam perjuangannya, Pang Laot Ali tahu betul tidak banyak yang bisa dilakukan di dalam hutan untuk menangani kesehatan pemimpinnya.
Awalnya, Pang Laot Ali menyarakan Cut Nyak Dien mau bekerja sama dengan Belanda agar mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Cut Nyak Dien tegas menolak usulan Pang Laot Ali dan mengatakan bahwa tidak mungkin ia menyerah kepada Belanda.
Cut Nyak Dien ingin berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mengusir Belanda demi agama dan bangsanya.
Artikel Terkait
Faktor yang Dapat Mewujudkan Keikhlasan
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Refleksi Perjuangan Guru
Mutiara Pagi: Di Bawah Langit Wilis (Bagian 1692)
Harmoni Keimanan dan Kasih Sayang
Survei Litbang Unisla: Popularitas di Media Sosial Bukan Jaminan Suara di Pilkada 2024
Aku Diantara Alam Makrokosmos: Sebuah Pendekatan Tasawuf dan Sains
SPN dan SPM Sambangi Pendopo Cianjur, Membahas Apa?
Pilkada 2024, Kapolda Jabar Cek Kesiapan Pasukan
Mutiara Pagi: Munajat Pilkada (Bagian 1693)
Thanksgiving: An Islamic View