Manajemen Kader

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 7 Agustus 2024 | 08:16 WIB
Ilustrasi podium pidato untuk acara sekolah perpisahan kelas 6 SD. (Pexels/Dominika Roseclay)
Ilustrasi podium pidato untuk acara sekolah perpisahan kelas 6 SD. (Pexels/Dominika Roseclay)

Buat ormas dengan jumlah kader besar memang butuh manajemen kader yang efektif. Tanpa itu bisa saja kader yang berjumlah besar justru kontraproduktif terhadap kerja-kerja organisasi.

Kenapa dibutuhkan kader dalam jumlah banyak? Ya karena organisasi butuh sumber daya dalam mengisi jabatan di setiap jenjangnya.

Bagaimana agar setiap kabupaten ada orang yang tepat dan terlatih untuk mengelola organisasi di level kabupaten.

Bagaimana agar tersedia kader yang cukup untuk mengisi space pengurus di level kecamatan agar semua kegiatan bisa dilaksanakan secara efektif.

Pun dilevel desa bagaimana caranya agar terisi pengurus yang kompeten berwibawa ditaati anggotanya.

Pengurus ranting NU misalnya dengan keterampilan organisasi lewat kaderisasi tentu mestinya mampu mengelola semua Jam'iyyah termasuk anggotanya.

Dia akan tahu potensi, masalah, dan tantangan anggotanya. Semestinya persoalan anggota selesai di level ranting saja. Tidak perlu sampai PBNU. Deteksi masalah ada di level ranting dan bisa selesai di level ranting.

Tentu saja jika tidak mampu ranting bisa di bantu oleh pengurus MWC, atau bahkan jika MWC tak mampu bisa minta bantuan PCNU.

Lalu bagaimana terkait demo ke PBNU kemarin. Tentu masalahnya itu di level ranting. Kita bermasalah di struktural ranting yang belum terisi, belum terkelola dengan baik, belum mampu mengeksekusi masalah.

Ranting yang tak terkelola dengan baik bisa jadi disebabkan karena MWC belum mampu mengelolanya dengan baik.

Dan MWC yang belum terkelola dengan baik bisa jadi disebabkan karena PCNU belum terkelola dengan baik. Begitu seterusnya.

Menyiapkan kader itu pekerjaan yang luar biasa. Melatih kader itu agar sesuai kompetensi juga pekerjaan yang luar biasa. Tentu akan makin repot jika orang yang mengelola organisasi di level tertentu itu bukan kader.

Tidak melalui jenjang yang disyaratkan. Akan runyam jika pemimpin tidak mengerti persoalan kader atau bahkan tidak tau ini kader atau bukan.

Bayangkan gerombolan berpangkat letnan dipimpin seorang prajurit dua misalnya. Tentu saja akan memunculkan banyak masalah, kurangnya kepercayaan, dan dianggap main-main.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X