Pada tahun 2002, saat Hamzah Haz menjadi wakil presiden, Usamah diangkat sebagai asisten pribadi Hamzah Haz. Dalam peran ini, ia banyak memberikan masukan mengenai dinamika sosial politik.
Ketika SBY menjadi presiden di tahun 2004, dan sebagai Ketum Partai Demokrat, Uka sempat mengajak saya diskusi. “Bro, saya ditawari pegang DPD Demokrat provinsi Banten. Bagaimana, bro?”
Posisi Ketua DPD Demokrat Banten diambilnya. Namun tak lama kemudian, jabatan itu ditinggalkannya juga.
Usamah memang pribadi yang fleksibel. Ia mudah bergaul, lintas profesi. Tak heran, ia bisa kokoh sebagai penulis, jurnalis, pengusaha, politisi, dan kiai sekaligus.
Ketika tahlil 7 hari ibu (mertua) wafat, Uka datang, di bulan Februari 2024. Itulah pertemuan saya yang terakhir dengannya.
Jalannya tak selancar dulu. Bicaranya juga tak setangkas dulu. “Saya sakit, bro,” ujarnya.
Ia sempat memberikan pandangannya. “Bro, anda sebaiknya memang tetap seperti ini saja. Tak usah masuk partai. Tak usah jadi menteri. Jadi teman presiden saja, dan bangun dunia anda sendiri.”
“Jauh lebih enak seperti anda bro, jadi orang bebas.” “Siap,” ujar saya sambil tertawa, menyalami tangannya.
Selamat jalan Usamah Hisyam. Selamat jalan, Uka.
Artikel Terkait
Heboh AJC di Indonesia
Heboh, 5 Oknum Nahdliyyin Lakukan Kunjungan ke Israel
Ketika Orang Pintar Jadi Jongos
Sejarah Pilkada Serentak di Indonesia
Miss World
Ikan Kembung vs Ikan Salmon, Baik Mana untuk Dikonsumsi?
dr. Mohammad Wahyu Diprediksi Jadi Kuda Hitam di Pilkada Cianjur 2024
AHY Nonton Final Proliga, Kecewa Karena Hal Ini
Bikin Bangga, Keluarga Prajurit Yonif 5 Marinir Raih Prestasi Karate Open
Potret Candi Prambanan Tawarkan Pemandangan yang Menakjubkan dan Memesona