JournalNusantara.com – Pendidikan merupakan hal pertama dan utama bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Tanpa mengeyam pendidikan yang baik maka dipastikan manusia tidak akan mendapatkan capaian yang telah ditagetkannya. Hal ini demi memperoleh kebahagiaan yang hakiki.
Diketahui bahwa Isu wellbeing atau kebahagiaan dalam dunia pendidikan tengah ramai diperbincangkan. Bukan hanya untuk siswa, wellbeing ini juga dianggap penting bagi guru bahkan warga sekolah secara keseluruhan.
Hal ini diungkap oleh British School Jakarta (BSJ) Head of Wellbeing Andrea Downie dalam acara BSJ’s Wellbeing Symposium 2024, di Bintaro, Tangerang Selatan, Senin (27/5). Menurutnya, wellbeing erat kaitannya dengan konsep pengembangan pendidikan yang holistik.
Baca Juga: Polisi Ralat 3 Buronan Pembunuh Vina, Pegi Tersangka Terakhir dan 2 Lainnya Asal Sebut
”Wellbeing adalah kunci dalam menumbuhkan perkembangan pribadi, adaptabilitas, ketangguhan, dan kebahagiaan,” ujar Andrea.
Wellbeing dilakukan untuk mempelajari strategi berdasarkan data guna menumbuhkan lingkungan yang ideal, budaya-budaya yang inklusif, dan pengalaman belajar yang terarah.
Konsep ini, menurut Kepala Sekolah BSJ David Bucther telah dijalankan oleh pihaknya sejak beberapa waktu lalu. BSJ secara kolaboratif bersama dengan murid, staf, dan pemangku kepentingan membentuk definisi kolektif atas wellbeing itu sendiri.
”Bagaimana sebenarnya kita bisa melihat kerangka pembelajaran bersama. Sehingga, terbentuklah lingkungan yang mendukung penuh wellbeing untuk semua pihak,” jelasnya.
Dengan begitu, semua pihak bisa meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan diri. Terutama untuk siswa yang nantinya akan menghadapi kehidupan di luar sekolah.
”Dan kami rasa, wellbeing ini tidak hanya untuk lingkungan sekolah kami saja. Tapi juga untuk disebarkan ke lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikbudristek Irsyad Zamjani menyebut, bahwa Kurikulum Merdeka yang baru saja diluncurkan secara resmi oleh Mendikbudristek sejatinya berkaitan erat dengan wellbeing ini. Pasalnya, guru dan siswa diberi kebebasan penuh dalam proses pembelajaran dalam kurikulum ini.
Baca Juga: GovTech Indonesia INA Digital Resmi Diluncurkan Presiden Jokowi
Awalnya, kata dia, guru dibebani tugas yang berat terutama dalam menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Tak jarang mereka sampai stress. Begitu pula siswa, dituntut untuk mempelajari semua materi. Padahal, tidak semua siswa menyukai ataupun menguasai materi-materi tersebut.
”Karenanya, dalam Kurikulum Merdeka yang pertama adalah menekankan tentang penyederhanaan,” ungkapnya. Guru tak lagi perlu mengejar pemenuhan kurikulum. Pembelajaran sepenuhnya berorientasi pada siswa. Ada fleksibilitas yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Sehingga, beban guru dan siswa pun tak lagi sebesar sebelumnya.
”Jadi siswa bisa datang ke sekolah dan menikmati pembelajarannya,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Ngopi Santai Bareng Mantan Komisioner KPU Cianjur
Perempuan Pasca Menikah
Meng-abdallah-kan Ulil Abshar
Orangtua Lalai, Anak Balita Terlindas Mobil Hingga Tewas...Waspadalah !
GovTech Indonesia INA Digital Resmi Diluncurkan Presiden Jokowi
Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Kebakaran, Terdengar Bunyi Ledakan
Polisi Ralat 3 Buronan Pembunuh Vina, Pegi Tersangka Terakhir dan 2 Lainnya Asal Sebut
Aplikasi Sistem Informasi Danau Diluncurkan
Shin Tae-yong Sebut Beberapa Syarat bagi Pemain yang Ingin Dinaturalisasi
Marriage: A Life Journey Together