Suara itu kini turun ke jalan,
bergema menyuarakan keberanian
Menyatu dengan debu dan panas siang,
menjadi teriakan yang tak bisa dihadang
Mereka bukan sekadar marah,
melainkan gambaran hati yang resah
Tak rela melihat negeri tercinta
diperdagangkan oleh nafsu kuasa
Langkah kecil yang mereka lakukan,
membanjiri jalan-jalan dengan tuntutan
Bukan untuk menjatuhkan,
tapi untuk mengingatkan:
bahwa janji bukan sekadar kata,
menganggap rakyat tidak tahu apa-apa
Di balik spanduk dan poster yang lusuh,
ada cinta tulus yang tak pernah rapuh
Cinta pada tanah air,
yang terus mengalir
Yang tak rela dipermainkan
oleh segelintir tangan,
yang punya kekuasaan
Suara mereka adalah doa,
harapan masa depan bangsa
Gugatan yang menolak diam,
tidak akan pernah padam
Karena wajah rakyat sejati,
tak mungkin tunduk pada tirani
Meski malam menutup hari,
suara itu takkan pernah mati
Terus bergetar di dalam hati,
menjadi bisik Ibu Pertiwi:
“Selama rakyat masih berani bersuara,
negeri ini takkan pernah binasa.”
Malang, 29 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Harapan Rakyat (Bagian 1946)
Membubarkan DPR Menyelesaikan Masalah? Pandangan Kritis dari Bangku Perkuliahan
BEM PTNU Soroti Krisis Integritas, Kapabilitas, dan Empati Pejabat Publik
Mahasiswa KKN Bhakti Kencana University Gelar Penyuluhan Hipertensi dan Cek Kesehatan Gratis di Desa Cibeet
Terkait Tudingan Mangkir KPAD Cianjur Penuhi Panggilan Inspektorat Daerah
Mutiara Pagi: Rakyat Menggugat (Bagian 1947)
Renungan HUT RI ke-80 Tahun
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat (Bagian 2)
PW IPNU Jabar Kecam Tindakan Brutal Aparat terhadap Ojol, Desak Kapolri Dicopot
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Gelar Edukasi Anti-Bullying di SDN Sindangkerta