Doa itu menjelma cahaya,
menembus langit yang penuh gulita,
ia terbang bersama angin,
menyentuh hati para pemimpin
Rakyat telah lama berdoa,
bukan hanya untuk perut mereka
tetapi untuk negeri tercinta
di mana janji tak sekadar kata
Dari sawah yang berkilau perak,
dari laut yang berderu ombak,
dari kota yang riuh sesak,
mereka bersatu dalam harapan yang sama:
agar tanah ini benar-benar merdeka
bukan hanya di bibir, tapi juga di dada
Mungkin jalan masih berliku,
namun doa tak pernah layu,
berubah menjadi api kecil,
menerangi kita sampai berhasil
agar anak-anak negeri
tak lagi tumbuh dalam sunyi
Harapan rakyat adalah suara,
tak bisa dibungkam oleh masa
mengetuk pintu hati penguasa
menjadi cermin bagi yang lupa
Bahwa kekayaan negeri kita
bukan milik segelintir nama,
melainkan anugerah untuk semua
Maka doa pun menjelma janji,
janji rakyat pada diri sendiri:
meski sering terluka,
meski sering kecewa,
cinta pada negeri tak akan sirna
Malang, 28 September 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Menghormati Dua Maestro, Jakob Oetama dan Jakob Soemardjo
Cegah Kriminalitas, Polsek Lakbok Intensifkan Patroli Malam dalam Ops Libas Lodaya 2025
Wabup Cianjur Terima Audiensi NPCI, Bahas Hibah 2026 dan Persiapan Ajang Olahraga Disabilitas
Mutiara Pagi: Doa Rakyat (Bagian 1945)
Sidang Class Action di Bandung, Masyarakat Sunda Tegaskan Kujang Bukan Senjata
ASKOPIS Dorong Peningkatan Mutu KPI Lewat Workshop Nasional Akreditasi
Wakapolda Jabar Tinjau Kendaraan Dinas Samapta, Ingatkan Personel Utamakan Sikap Humanis
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Gelar Seminar Hukum Perceraian dalam Perspektif Islam di Desa Sindangsari
Workshop Inovasi PAI di Campaka: Bekali Guru dengan Metode Kreatif, Ditutup Wakaf 300 Al-Qur’an
Bopic Community Tebar Kepedulian Lewat Pengobatan Gratis di Bojongpicung