Jalan Menuju Kebeningan Jiwa dan Keberkahan Hidup

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 22 Desember 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi - Jalan hidup weton Jumat Pon menurut primbon Jawa, ini penjelasannya (Foto Freepik)
Ilustrasi - Jalan hidup weton Jumat Pon menurut primbon Jawa, ini penjelasannya (Foto Freepik)

Oleh Karena itu, Takbur adalah penyakit hati yang merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Bahaya dan dampaknya sangat luas, mencakup kehancuran individu, sosial, dan moral. Melawannya membutuhkan kesadaran diri, keimanan yang kuat, dan komitmen untuk selalu tawadhu’.

Dengan mempraktikkan solusi-solusi Islami yang disertai dalil-dalil, takbur dapat diatasi, sehingga tercipta kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat.

Kesimpulan dan Refleksi Akhir

Takbur adalah penyakit yang meracuni hati, mengaburkan pandangan akan hakikat kehidupan, dan menjauhkan manusia dari jalan kebenaran.

Kesombongan adalah jalan menuju kehancuran, baik bagi individu maupun sosial. Ia merusak hubungan manusia dengan Allah, menciptakan permusuhan di antara sesama, dan mengundang kemurkaan Ilahi.

Dalam setiap langkah hidup, manusia diingatkan akan asal dan akhir hidupnya: dari tanah ia diciptakan, ke tanah ia kembali, dan di akhirat ia berdiri tanpa membawa apa pun selain amal dan kebaikan.

Tidak ada atribut duniawi yang menyertai, tidak harta, tidak kedudukan, tidak pula kemegahan yang sering menjadi alasan seseorang merasa takbur. Allah mengingatkan:
"كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"
"Setiap jiwa pasti merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah kalian disempurnakan balasan kalian."
(QS. Ali Imran: 185)

Ketika seseorang berdiri di hadapan Allah pada Hari Penghisaban, atribut duniawi tidak akan menyelamatkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ."
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."
(HR. Muslim, no. 2564)

*Refleksi Kehidupan dan Kematian*

Apa yang layak disombongkan oleh manusia? Tubuh yang rapuh, umur yang singkat, atau harta yang fana? Kesombongan hanya menunjukkan ketidaktahuan akan kelemahan diri.

Manusia yang benar-benar memahami bahwa kematian menunggu di ujung jalan hidupnya tidak akan berani meninggikan diri, karena ia tahu bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara, sebagaimana Rasulullah SAW.bersabda:
"كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ."
"Hiduplah di dunia seakan-akan engkau adalah seorang asing atau seorang musafir yang sedang lewat."
(HR. Bukhari, no. 6416)

Ketika maut tiba, semua kebanggaan dunia akan gugur. Seseorang akan masuk ke liang lahat dengan kain kafan sederhana, meninggalkan segala apa yang pernah ia banggakan. Bahkan, tulang belulang yang dahulu kuat akan kembali menjadi tanah.

Maka, bukankah jauh lebih indah bagi manusia untuk hidup dalam tawadhu’, menundukkan hati, menghormati sesama, dan menyerahkan diri kepada Allah? Rasulullah SAW.bersabda:
"إِنَّ أَوَّلَ مَنْ يُدْعَى إِلَى الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الَّذِينَ يَحْمَدُونَ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ."
"Sesungguhnya yang pertama kali dipanggil ke surga pada hari kiamat adalah mereka yang senantiasa memuji Allah, baik dalam kesenangan maupun kesusahan."
(HR. Ahmad, no. 15479)

Karena itu, mari kita renungkan, apakah kesombongan benar-benar memberikan kebahagiaan? Ataukah ia hanya membangun tembok kesendirian dan kehancuran? Mari melawan takbur dengan kesadaran akan hakikat diri, memperbanyak istighfar, dan mengingat kematian.

Dalam tawadhu’, kita menemukan kekuatan. Dalam kerendahan hati, kita mendekat kepada Allah. Dan dalam keikhlasan, kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan abadi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X