Jalan Menuju Kebeningan Jiwa dan Keberkahan Hidup

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 22 Desember 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi - Jalan hidup weton Jumat Pon menurut primbon Jawa, ini penjelasannya (Foto Freepik)
Ilustrasi - Jalan hidup weton Jumat Pon menurut primbon Jawa, ini penjelasannya (Foto Freepik)

Oleh: Munawir

Di tengah panggung kehidupan ini, manusia sering kali lupa bahwa ia hanyalah debu yang diberi nyawa, setitik kecil di lautan tak bertepi. Langit membentang begitu tinggi, bumi menghampar begitu luas, tetapi ada hati yang ingin menjangkau keduanya dengan keangkuhan yang biasa disebut Takbur.

Takbur adalah kesombongan yang halus namun mematikan, menipu jiwa dengan ilusi keagungan yang semu.

Namun tidakkah manusia bertanya kepada dirinya sendiri: apakah yang ia banggakan? Tubuh yang fana, harta yang sirna, atau pangkat yang akan lenyap seiring usia? .

Takbur adalah bisikan lembut setan yang mengangkat diri hanya untuk menjatuhkan, menutup mata dari hakikat sejati, dan membutakan hati dari keindahan rendah hati.

Sebuah jerat yang memisahkan manusia dari Tuhan, dari sesama, bahkan dari dirinya sendiri.
Allah, Sang Pemilik Keagungan, telah berfirman:
"وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا"
"Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong; sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi, dan tidak akan mampu mencapai setinggi gunung."
(QS. Al-Isra: 37)

Ayat ini bukan sekadar peringatan, tetapi tamparan lembut dari Sang Pencipta. Betapa hina manusia ketika lupa bahwa ia diciptakan dari tanah yang hina, dibentuk sempurna bukan untuk kesombongan, melainkan untuk ketundukan.

Dan Rasulullah SAW., manusia termulia yang pernah ada, bersabda:
"لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ"
"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada seberat zarrah dari kesombongan."
(HR. Muslim)

Betapa keras peringatan ini, tetapi juga betapa besar kasih sayang di baliknya. Kesombongan bukan hanya merusak, tetapi juga memutuskan jalan menuju kebahagiaan abadi.

Maka, tulisan ini dimaksudkan bukanlah sekadar rangkaian kata, tetapi panggilan untuk merenungi hakikat diri, untuk kembali menjadi jiwa yang lembut dan penuh kerendahan hati. Kita diajak menyelami betapa takbur menghancurkan, baik dalam kehidupan individu maupun dalam harmoni sosial.

Al-fakir mengajak sejenak untuk kita simak lebih jauh dan dalam tuntunan agama kita. Bukan sekadar untuk memahami, tetapi untuk melawan. Karena rendah hati adalah keindahan jiwa, dan kesombongan hanyalah bayang-bayang gelap yang menghalangi cahaya Tuhan. Semoga tulisan ini menggetarkan hati, menggugah jiwa, dan menuntun langkah kita menuju kebeningan hidup.

MELAWAN TAKBUR: Sebuah Tuntunan Agama

Pengertian Takbur
Takbur (arrogansi atau kesombongan) berasal dari kata kibr dalam bahasa Arab yang berarti membesarkan diri, merasa lebih tinggi, atau meremehkan orang lain.

Dalam terminologi Islam, takbur adalah penyakit hati yang muncul dari merasa superior terhadap makhluk lain dan menolak kebenaran.Rasulullah SAW. bersabda:
"لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ."
"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan."
(HR. Muslim, no. 91).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB

Mutiara Pagi: Prasangka (Bagian 2256)

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:37 WIB
X