“It’s fine Imam. This was not intended“, kata salah seorang murid yang beragama Islam.
“So what I can do for you today?”, tanya saya.
Mereka saling melihat sambil senyum atau tertawa ringan. Nampaknya saling mengharap satu sama lain untuk menjadi juru bicara. “It’s okay… i am not scary right?”, kata saya bercanda.
Salah seorang di antaranya kemudian menyampaikan: “our friend, Jennifer, want to ask you something”, katanya sambil menunjuk ke arah salah seorang siswi yang nampaknya orang Amerika berkulit putih.
“Hi Jennifer, nice meeting you”, sapa saya.
“Same here”, (sama, saya juga senang ketemu”, jawabnya.
“So what do you want to ask?”, tanya saya.
Dia kemudian menengok ke teman-temannya. Nampak seolah malu-malu untuk bertanya. “Just ask anything you want to…”, lanjut saya.
Jennifer nampak masib ragu dan malu. Tiba-tiba dengan suara pelan dia berkata: “is there any particular requirement to become a Muslim?”. Dia bertanya sambil melihat ke arah temannya, bukan ke arah saya. Mungkin masih ragu atau malu.
Saya kemudian mencoba memotivasi Jennifer: “you don’t have to be hesitate to ask about anything in Islam. Islam commands us to ask the people of knowledge if we don’t know”, merujuk kepada ayat Al-Qur’an.
Saya kemudian menjelaskan bahwa tidak ada “requirement” untuk menjadi seorang Muslim kecuali “keyakinan” (certainty) jika Islam adalah jalan hidup kebenaran. “If you believe that Islam is the true way of life, that there is only One true God and Muhammad is the Messenger of God, you are already Muslim”.
Tapi sebelum lanjut, saya tanya ke Jennifer: “if I may ask, what do you make you want to become a Muslim?” (Apa yang menjadikan kamu tertarik masuk Islam?).
Sambil melihat teman lagi dan masih nampak malu, Jenifer mengatakan: “I have been thinking for sometime to convert”. Tapi dia menjelaskan bahwa teman-teman dialah yang menjadi jalannya mencari Islam. Tapi menurutnya lagi, khutbah saya hari itu mengklarifikasi beberapa hal yang masih menjadi keraguan. Menurutnya, selama ini dia masih memahami jika Islam itu lebih identik dengan budaya Timur Tengah atau Asia Selatan.
Dalam khutbah hari itu memang saya jelaskan bahwa budaya itu adalah karakter sosial yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tertentu. Semua bangsa punya budayanya sendiri. Termasuk Amerika memilki budayanya yang mungkin saja tidak sesuai dengan budaya saya sebagai pendatang. Tapi saya harus hormati, selama itu tidak bertentangan dengan keyakinan saya dan “prinsip kemanusiaan yang mendasar”.
Agama hadir bukan untuk menghapus budaya setiap orang atau bangsa. Tapi hadir untuk menguatkan (to confirm and affirm) dan jika diperlukan membenarkan (to correct) budaya yang sudah ada. Di situlah makna “li yutammima makaarimal akhlaq” (menyempurnakan akhlak manusia).
Singkatnya Jennifer yang tadinya khawatir dipaksa oleh Islam untuk mengganti budaya, menjadi apa yang dia sebut “Middle eastern or South Asian culture) atau budaya Timur Tengah atau Asia Selatan. Namun dengan khutbah singkat yang saya sampaikan itu dia merasa jika Islam adalah agama semua orang. Termasuk untuk dirinya sendiri sebagai orang Amerika keturunan Eropa.
Saya kemudian tanya ke Jennifer: “so now, are you ready to accept Islam?”.
Artikel Terkait
Kebakaran Los Angeles, Azab dan Hoax
Menemukan Keselamatan di Tengah Gemuruh Dunia
Jangan Cengeng, Optimis Raih Swasembada Pangan
Mutiara Pagi: Di Atas Kota Perak (Bagian 1741)
Pertama Kali di Cianjur, Terasia Episode 2
Paradoks Perberasan
Menyibak Hakikat Kerugian dalam Lintasan Waktu
Igornas Cianjur Sosialisasikan Senam Waringkas dan Anak Indonesia Hebat
Mutiara Pagi: Di Sini Tempat Lahir Kita (Bagian 1742)
Mengurai dan Menakar Luka di Tengah Konflik yang Tak Sehat Oleh: Munawir