Tak hanya itu, ia merasa terdorong untuk menjadi role model bagi santri lainnya. "Santri zaman now itu harus mampu bersaing secara global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan," tuturnya menjabarkan.
Tentu saja, perjalanan ini juga diwarnai tantangan. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang penuh keragaman, menghadapi tekanan mental dan persaingan ketat, serta mengelola waktu yang padat. Penguasaan bahasa asing juga menjadi tantangan tersendiri yang harus ia hadapi.
Dukungan Penuh dari Orang Terdekat
Di balik setiap pencapaian, selalu ada peran orang-orang terdekat yang menjadi sumber kekuatan. Orang tuanya adalah yang pertama kali memberikan restu dan dukungan penuh. “Doa dari orang tua menjadi energi besar yang menguatkan langkah saya,” ujar Zawad penuh haru.
Teman-temannya juga sangat suportif, bahkan membantu dalam proses pendaftaran. "Dari situ saya belajar bahwa perjuangan bersama jauh lebih bermakna daripada sekadar pencapaian individu," ungkapnya. Tak ketinggalan, para guru dan pembimbing di pesantren menjadi penunjuk arah yang tak pernah lelah memberikan bimbingan dan masukan.
Harapan untuk Santri dan Generasi Muda
Sebagai penutup, Zawad menyampaikan harapannya. Ia berharap para santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pelopor perubahan dan pemimpin masa depan. “Santri harus percaya diri bahwa mereka mampu bersaing, berkontribusi, dan bersuara di tingkat nasional maupun internasional,” imbuhnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk terus belajar, menjaga akhlak, dan aktif membangun bangsa. “Mari kita isi masa muda dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena masa muda adalah waktu terbaik untuk menanam dan hasilnya akan kita panen di masa depan,” tutupnya.