Journalnusantara.com, Cianjur - Namanya Luthfi Muhammad Fikri Al Zawad, seorang santri dari Pondok Pesantren Miftahulhuda Al Musri' Pusat, Cianjur. Di kalangan teman-temannya, ia akrab disapa Zawad. Pemuda kelahiran 5 April 2004 ini memiliki segudang pengalaman di usia mudanya.
Ia tercatat sebagai Wakil Komandan DKAC CBP Kecamatan Ciranjang, pengurus PC IPNU Cianjur, dan Devartemen Sosial Pelita Intan Muda di KBB CIMAHI. Namun, di balik semua itu, ada sebuah cerita unik tentang bagaimana ia menapaki jalan menuju forum internasional.
Semuanya berawal dari aktivitas yang sangat umum bagi anak muda menjelajahi media sosial. "Waktu itu saya lagi scrolling Instagram seperti biasa," cerita Zawad dalam wawancara eksklusif bersama Journalnusantara.com, Senin (15/9/2025).
Ia tak sengaja melihat unggahan dari akun resmi subnit dakwah Kementerian Agama RI acara Dai Muda dan akun Resmi Santri Mendunia acara International Conference. Awalnya ia hanya melihat sekilas, tapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ia pun menyempatkan diri membaca detail persyaratan dan alur pendaftarannya. Setelah melalui pertimbangan matang, serta meminta restu dan nasihat dari guru dan orang tuanya, ia memantapkan niat. "Dalam hati saya tanamkan niat: ini bukan sekadar kompetisi, tapi peluang untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi lebih luas sebagai santri muda," ujarnya.
Dari Santri Pesantren Menjadi Peserta Konferensi Internasional
Tak butuh waktu lama setelah mengirimkan berkas, Zawad mendapat kabar gembira ia lolos seleksi administrasi. Sejak saat itu, perjalanan luar biasanya dimulai. Ia mengikuti berbagai pembekalan, pelatihan, dan forum diskusi bersama peserta lain dari berbagai daerah.
"Kami diajarkan tentang dakwah yang moderat, komunikasi global, serta isu-isu penting yang dihadapi oleh umat Islam di dunia internasional," kenang Zawad menuturkan dengan nada penuh semangat.
Dengan kegigihan dan niat yang tulus, ia berhasil lolos hingga tahap akhir. Ia terpilih menjadi salah satu peserta yang tampil dalam International Conference Santri Mendunia. Di hadapan delegasi internasional, ia berkesempatan menyampaikan pandangannya tentang peran santri dalam membangun perdamaian dunia dan menjaga harmoni antarumat beragama.
“Suatu kehormatan besar bisa tampil di hadapan delegasi internasional dan membawa nama baik pesantren serta daerah asal saya,” ungkapnya dengan penuh rasa bangga.
Prestasi tak berhenti di situ. Ia juga terpilih sebagai peserta Program Pembibitan Dai Muda Kementerian Agama RI. Program ini memberinya ruang untuk mendalami dunia dakwah, retorika, media sosial dakwah, dan berbagai tantangan dai di era digital.
"Saya merasa sangat bersyukur, karena ini bukan hanya prestasi pribadi, melainkan juga amanah besar untuk terus menyuarakan nilai-nilai Islam yang damai, inklusif, dan membangun," tegas Zawad mengungkapkan.
Peluang dan Tantangan di Era Modern
Mengikuti program-program bergengsi ini membuka banyak peluang baru bagi Zawad. Ia berkesempatan membangun jaringan internasional, meningkatkan kapasitas diri, dan mendapat bimbingan langsung dari para tokoh nasional.
Artikel Terkait
Akta Jual Beli (AJB): Syarat Wajib untuk Transaksi Properti yang Sah
Biaya Akta Jual Beli (AJB)
Belajar dari Empat Tokoh Antikorupsi Legendaris Indonesia
Papua Mulia
Penyebaran Berita Bohong dan Kebencian
Menikmati Jalan Santai, Menyapa Akhir Pekan dengan Rileks
Label Halal, Penanda Nyaman untuk Nongkrong di Kafe
Mutiara Pagi: Bahasa Cermin Jiwa (Bagian 1963)
Ketua dan salah satu dosen STAI Al-Azhary Cianjur Raih Sertifikat Asesor Kompetensi BNSP dalam bidang Pimpinan Lembaga Pendidikan
Masyarakat Desa Tapak Kuda Menuntut Transparansi: Dari Surat Rekomendasi ke SK yang Tertunda