Journalnusantara.com, Sukabumi - Dengan tingkat risiko bencana yang cukup tinggi, menjadi salah satu wilayah yang perlu perhatian serius dalam hal penanggulangan bencana.
Berdasarkan data, Kabupaten Sukabumi memiliki skor risiko bencana 186,61 poin, menempatkan wilayah ini di peringkat ke-28 tertinggi se-Indonesia. Bencana dengan risiko tinggi yang sering terjadi di wilayah ini antara lain banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, serta tsunami.
Selain itu, bencana dengan risiko sedang di wilayah ini meliputi banjir, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan gunung api, dan tanah longsor. Di antara berbagai jenis bencana, gempa bumi, kekeringan, dan cuaca ekstrem memiliki dampak paling besar pada jumlah penduduk yang terpapar. Bencana-bencana ini rentan terjadi di hampir seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kejadian bencana di Sukabumi meningkat signifikan. Dari 727 kejadian pada tahun 2018, jumlahnya naik menjadi 926 kejadian pada 2022. Selain itu, jumlah korban bencana juga meningkat, dari 2.982 jiwa pada tahun 2018 menjadi 3.398 jiwa pada tahun 2022.
Bencana tanah longsor, khususnya, menjadi salah satu bencana dengan jumlah kejadian terbanyak selama periode 2018-2022. Salah satu penyebab utama tingginya risiko longsor adalah penurunan kualitas tutupan lahan akibat alih fungsi lahan, erosi, dan pencemaran tanah. Kualitas tutupan lahan ini menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur ketahanan lingkungan hidup.
Menghadapi masalah tersebut, Patriot Desa Jawa Barat Penugasan Kabupaten Sukabumi, bersama dengan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah III Propinsi Jawa, melaksanakan program Gerakan JUNA (Jumat Menanam).
Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan lingkungan dan mitigasi bencana alam melalui penanaman pohon di tiga desa di Kecamatan Cireunghas, yaitu Desa Tegalpanjang, Desa Cikurutug, dan Desa Bencoy. Pada tahap pertama, 1.300 bibit pohon ditanam di Desa Bencoy, dengan jenis pohon yang ditanam antara lain pohon mahoni, albasia, buah jambu biji merah, dan sirsak.
Fardan Abdul Basith dan Silvia N. Jatnika, sebagai Patriot Desa Jawa Barat di Desa Tegalpanjang dan Desa Cikurutug, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah langkah awal untuk mengurangi risiko pergeseran tanah akibat perubahan iklim. Gerakan JUNA ini sangat relevan untuk meningkatkan ketahanan lingkungan dan memitigasi bencana di desa-desa tersebut.
Adapun tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kualitas tutupan lahan, menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan mengurangi kerusakan lingkungan, serta memitigasi bencana alam.
Penanaman pohon dilakukan secara simbolis dengan penanaman 100 bibit pohon di Kp Tegal Ceuri, Desa Bencoy, yang merupakan tanah aset desa. Penanaman sisa bibit pohon akan dilaksanakan pada Jumat berikutnya bersama masyarakat dan berbagai pihak terkait.
Kegiatan Gerakan JUNA ini melibatkan berbagai unsur perwakilan, termasuk dari Kecamatan Cireunghas, CDK Wilayah III Jawa Barat, P2BK, Pemdes Bencoy, Perwakilan Pemdes Cikurutug dan Tegalpanjang, serta kelompok tani dan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, seluruh peserta juga melakukan jalan kaki pagi bersama sebelum menuju lokasi penanaman untuk meningkatkan kesehatan tubuh sekaligus memberikan edukasi tentang pentingnya olahraga pagi.
Kegiatan penanaman bibit pohon ini diawali dengan seremoni penyerahan bibit pohon dari pihak CDK III Jawa Barat kepada Kepala Desa Bencoy, yang kemudian diserahkan kepada masyarakat dan para kolaborator untuk ditanam bersama. Acara tersebut diakhiri dengan doa agar pohon yang ditanam dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat setempat.
Koko Muhamad, Staf Senior Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (SSPMD) Program Patriot Desa Kabupaten Sukabumi, menekankan bahwa orientasi program Patriot Desa adalah investasi insani (human investment).
Artikel Terkait
Aturan Kementerian Hukum dan Perpanjangan Paspor Diaspora RI
Menyambut Bulan Suci Ramadan Dengan Hati yang Riang
Mutiara Pagi: Menuju Rida Ilahi (Bagian 1778)
Awas, Bahaya Laten Fasisme!
Diplomasi Seorang Raja
Mutiara Pagi: Kebajikan (Bagian 1779)
Retret ala Prabowo: Perspektif Teori Jarum Suntik
Gotong Royong sebagai Jembatan Pemecah Sekat Keterpisahan di Masyarakat
Strategi GP Ansor Karangtengah Cianjur: Menyatukan Ideologi Kuat, Intelektual Hebat, dan Ekonomi Sehat
Prof. Mahmud Zaki VS Wajah Akademisi Masa Kini