Journalnusantara.com, Cianjur – Gotong royong, sebagai warisan budaya yang kental di masyarakat Indonesia, telah terbukti mampu menjadi jembatan pemersatu yang memecah sekat-sekat keterpisahan antar warga.
Di tengah kemajuan digitalisasi yang memengaruhi kehidupan sosial, tradisi gotong royong tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan sosial, seperti yang terlihat di Kampung Ancol RT001 RW002, Desa Maleber, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur.
Menghadapi bulan puasa, warga setempat menggelar kegiatan gotong royong di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Ketua Rukun Tetangga (RT), Mahpudin, menekankan bahwa gotong royong bukan hanya sekadar kegiatan fisik, melainkan juga sebagai sarana mempererat hubungan antar generasi.
"Gotong royong menciptakan kegembiraan, kerukunan, dan persaudaraan yang lebih erat antar warga," ujar Mahpudin.
Pentingnya menjaga tradisi gotong royong menjadi lebih relevan di era digital ini, di mana interaksi sosial semakin terfragmentasi oleh kesibukan virtual. Ketua Rukun Warga (RW), Aldi Sandi, menambahkan bahwa gotong royong bukan hanya mempertemukan fisik warga, tetapi juga mempererat hubungan emosional dan psikologis mereka.
"Kebersamaan itu tercipta melalui canda tawa dan kerja sama yang melibatkan semua lapisan masyarakat," ungkap Aldi Sandi.
Meskipun tantangan digitalisasi semakin besar, budaya gotong royong yang masih hidup di perkampungan seperti di Kampung Ancol menjadi bukti bahwa tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang dan menjadi alat pemersatu di tengah masyarakat.
Dalam suasana yang penuh semangat itu, obrolan ringan dan tawa mengiringi kerja keras bersama, menunjukkan bahwa kebersamaan dan gotong royong memang membawa kebahagiaan dan keindahan bagi setiap orang.
Kontributor: M. Iya Suryadi
Artikel Terkait
Cianjur Era Baru: CEO CDN Ucapkan Selamat kepada Bupati Wahyu dan Wakil Bupati Ramzi
BEM PTNU DIY Soroti Efisiensi Anggaran dalam Inpres 1/2025: Kritikan Terhadap Sektor Pendidikan dan Kesehatan
Bahtsul Masail LBMNU Sukabumi: Menjaga Lingkungan Hukumnya Wajib, 'Pemanfaatan Yes, Eksploitasi No'
Jejak Sejarah Cepu dengan Rel Kereta Api
Aturan Kementerian Hukum dan Perpanjangan Paspor Diaspora RI
Menyambut Bulan Suci Ramadan Dengan Hati yang Riang
Mutiara Pagi: Menuju Rida Ilahi (Bagian 1778)
Awas, Bahaya Laten Fasisme!
Diplomasi Seorang Raja
Mutiara Pagi: Kebajikan (Bagian 1779)