Oleh: Nang Go
Meski penulis tidak bisa menghadiri acara Haol Akbar yang dilaksanakan untuk pertama kalinya, sebagai orang yang pernah ngastrol di Ciharashas ingin sedikit membagikan pengalaman selama penulis berada di sana antara tahun 74-78.
Penulis masuk pesantren Ciharashas awal tahun 1974 setelah sebelumnya penulis nyatren di pesantren Cilaku hilir asuhan KH. Ahmad Munawwar.
Usia penulis ketika masuk pesantren Ciharashas baru menginjak 14 tahun. Jika penulis masuk sekolah mungkin baru kelas 2 SLTP.
Selepas MI penulis tidak langsung melanjutkan ke pendidikan formal melainkan orang tua mengarahkan penulis agar belajar agama dulu di pesantren. Dan hanya dua pesantren pilihan orang tua waktu itu; pesantren Cilaku hilir yang waktu terkenal dengan pesantren Cilaku ABC, dan pesantren Ciharashas.
Waktu itu belum trend nama-nama pesantren seperti sekarang. Nama pesantren selalu dinisbatkan ke kampung dimana pesantren itu berada.
Ketika penulis memasuki dan pertama kali belajar di pesantren Ciharashas, awalnya penulis agak minder karena santrinya kebanyakan sudah berusia dewasa, mungkin mereka berusia rata-rata 20-40 tahun.
Kalau tidak salah, santri yang masih berusia anak-anak hanya penulis dan santri yang berasal dari Brebes. Namanya Faizin. Ia malah lebih muda dari penulis.
Ketika penulis mengikuti pengajian yang diasuh langsung oleh Mama, penulis benar-benar merasa menjadi anak bawang.
Diantara deretan santri penulis yang paling kecil. Sementara kitab-kitab yang diajinya kitab-kitab besar yang biasa digunakan untuk santri yang sudah berpengalaman di pesantren-pesantren sebelumnya.
Kitab-kitab yang dijadikan sumber belajar waktu itu adalah kitab Kifayatul Akhyar, Fawaidul Makiyyah, Tajridus Sharih, Alfiyyah Ibnu Malik, Jauhar Maknun, Sullamul Munawraq, dan lain-lain.
Yang menjadi sedikit catatan penting buat penulis disini adalah:
1. Waktu kami berada di pesantren Ciharashas, kondisi kesehatan Mama sudah tidak memungkinkan mengajar santri secara full time. Hanya pagi dan setelah magrib saja beliau bisa mengajar kami dengan metode balaghan.
Selebihnya, bahwa dalam setiap selesai memimpin shalat wajib, beliau selalu mendoakan seluruh santrinya agar kami menjadi ulama dan kiai ketika kami sudah kembali ke kampung masing-masing.
Artikel Terkait
Yuk Ikuti Lomba Fotografi, Berhadiah Jutaan Rupiah
Orang yang Paling Mulia di Sisi Allah
Bacalon Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Hadiri Sidang Promosi Doktor Kang Saan Mustofa di Unpad Bandung
Kota Bekasi dengan View Gunung Gede Pangrango
Kiprah Mama Ajengan KH Muhammad Syuja'i, Ulama Kharismatik Asal Cianjur
Pasanggiri Mojang Jajaka Kota Cimahi 2024 Telah Dibuka, Yuk Ikutan!
Pelarian Pangeran Senopati dari Jayakarta
425 Siswa Asal Papua Ikuti Pendidikan Bintara Polri Gelombang II Tahun 2024
Soroti Aset Sekda, Jaringan Intelektual Muda Akan Gelar Aksi Demontrasi di Depan Kantor Kejaksaan Negeri Cianjur
Bacalon Bupati Cianjur dr. M Wahyu Hadiri Pernikahan Rifki dan Santi, Ungkap Rahasia Keluarga Bahagia