Oleh : Nanang Gojali
Di Indonesia, sebagaimana juga dimanapun di berbagai belahan dunia, ada banyak orang yang memiliki nama besar. Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka, KH. Hasyim Asy'ari, KH. Ahmad Dahlan, A. Hassan, dan masih banyak lagi, adalah orang-orang Indonesia yang punya nama besar dan kebesaran namanya bahkan melambung ke mancanegara.
Yang menjadikan mereka bernama besar bukan namanya yang panjang atau ditulis dengan huruf-huruf besar. Mereka mempunyai nama besar karena mereka telah mewariskan kebaikan dan jasa-jasa besar untuk kemerdekaan negara Indonesia dari penjajahan negara-negara asing.
Karena mereka adalah orang-orang yang sangat berkontribusi dalam memajukan agama Islam di Indonesia. Kebasaran nama mereka bukan lantaran eksistensi mereka yang poluper, bukan karena mereka proklamator, bukan karena mereka adalah ulama. Tetapi, nama besar mereka lebih ditentukan oleh fungsi, kontribusi, dan jasa-jasa besar mereka terhadap nusa, bangsa, dan agama.
Baca Juga: Gaungkan Nasionalisme Melalui Makanan, Arief Rosyid ‘Urunan’ Jadi Investor Resto Indonesia di Madrid
Adakah hubungan antara nama besar dan popularitas?
Jika dilihat dari perspektif Islam, orang yang punya nama besar itu tidak mesti ia populer. Dan di dunia tasawuf, kepopuleran itu sesuatu yang tidak populer. Banyak orang-orang yang menggeluti dunia asketik yang belakangan namanya menjadi populer justru karena ketidakpopulerannya. Mungkin kedengarannya absurd. Tapi itulah faktanya. Penulis yakin pembaca sudah mengenal nama Uwais al-Qorni. Kita semua mengenalnya karena ketidak terkenalannya.
Seorangpun di kampungnya tidak ada yang mengenalnya sebagai orang yang sangat terkenal di dunia langit, sebagaimana pernah diinformasikan Rasulullah kepada para sahabatnya. Uwais punya nama besar sebagai penghulunya para salik dan mutashawwifin.
Tetapi ia sama sekali tidak terkenal di kalangan ahli bumi. Ia hanya terkenal di kalangan malaikat di langit. Simpulnya, nama besar itu tidak ada hubunganya dengan popularitas, dan orang yang punya nama besar tidak mesti populer.
Baca Juga: Bang Tyo: Ekonomi Kerakyatan Adalah Kunci
Di zaman yang sudah banyak yang terbalik-balik ini, banyak orang yang ingin populer, karena dalam pandangan mereka popularitas itu bisa menghadirkan kesenangan dan kebahagiaan. Karena popularitas identik dengan nama besar, dan dengan nama besar hidup menjadi mudah.
Lucunya lagi, kita juga dan banyak orang yang tersilaukan dengan nama besar dan popularitas. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana kita bersikap hormat kepada orang yang punya nama besar dan populer dengan kepada yang tidak punya nama besar. Hal ini bisa kita lihat dan rasakan pada sebuah pertemuan yang disitu ada banyak ulama yang hadir.
Bagaimana cara bersalamannya yang hadir kepada tokoh ulama dan kepada ustadz setempat yang juga adalah ulama. Ternyata, dari sisi sikap dan penghormatan kepada orang, kita ini masih belum bisa melepaskan diri dari budaya sisa feodalisme jamannya kerajaan zaman dahulu.
Menjadi orang yang punya nama besar itu tidak haram. Menjadi orang populer itu sah-sah saja. Yang tidak boleh adalah merasa menjadi orang besar dan merasa populer. Dan yang lebih penting adalah nama besar itu bukan tujuan hidup. Menjadi populer itu juga jangan menjadi tujuan. Nama besar itu buah dari tanaman.
Artikel Terkait
Gempa Cianjur Menyisakan Duka Mendalam Bagi 135 Anak Korban Bencana
Amalan Selamat Sampai 7 Turunan dari Gus Baha
Bang Tyo: Ekonomi Kerakyatan Adalah Kunci
Ronald Moultine: Saya Belum Melihat adanya Bukti Bahwa Alien Berkunjung ke Bumi, "Penyelidikan"
Twitter Memberikan Larangan untuk Pengguna Agar Tidak Mempromosikan Sosial Media Lain
Meluruskan "Sesat Logika" Bupati Cianjur tentang Bencana Membawa Berkah
11 Tahun Pernikahan Dijalani Tanpa Gosip, Dodi Hidayatullah Resmi Bercerai
Pelaku Pelecehan Seksual Universitas Gunadarma Perpanjang Kasus Persekusi, "Sekarang Berstatus Menjadi Korban"
Amerika Serikat Klaim NATO Mampu Hancurkan Rusia dalam Waktu 3 Hari
Gaungkan Nasionalisme Melalui Makanan, Arief Rosyid ‘Urunan’ Jadi Investor Resto Indonesia di Madrid