Nur Afifah Auliyani: Memahami dan Merawat Kebhinekaan Nusantara Demi Harga Diri Bangsa

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Minggu, 4 Desember 2022 | 20:54 WIB
Keris warisan budaya bangsa yang harus dilestariukan karena ini merupakan bagian dari kebhinekaan bangsa Indonesia.  (Foto Istimewa/ Portal Sulut - Pikiran Rakyat)
Keris warisan budaya bangsa yang harus dilestariukan karena ini merupakan bagian dari kebhinekaan bangsa Indonesia. (Foto Istimewa/ Portal Sulut - Pikiran Rakyat)

JournalNusantara.com/ SuaraMahasiswa - Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bagi bangsa Indonesia yang artinya “Berbeda beda tetapi tetap satu jua”. Bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan, dan  lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Tatkala juga terdapat ratusan  bahkan lebih suku bangsa yang ada di bumi Indonesia. Dari suku-suku ini kemudian terbentuk  suatu ragam budaya yang berbeda antar satu sama lain. 

Tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika, pastinya akan  terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana setiap orang  hanya mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa peduli kepentingan bersama.  Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan terpecah belah.

Baca Juga: Wida Apridalia: Redefinisi Semboyan Negara di Tengah Terpaan Kepentingan Global

Akhir-akhir ini, sungguh  banyak sekali kasus-kasus yang telah mencemari istilah Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini  sudah kita tanam sejak dulu. Saya ambil contohnya dalam kebudayaan saat ini yang dimana telah  di deskripsikan diatas bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat kaya namun, berapa  banyak budaya yang bisa kita sebutkan dari sedemikian banyaknya budaya yang dimiliki  Indonesia?

Mungkin jawaban kita hanya bisa dihitung dengan jari. Ironis memang. Tapi inilah  kenyataan yang ada. Kita, penerus generasi bangsa, seakan cuek terhadap budaya kita sendiri.  Kita harus melestarikannya. Tapi mengapa malah tak peduli dan mengabaikannya? 

Di era globalisasi ini budaya-budaya barat sangat mudah masuk ke Indonesia. Budaya ini tumbuh dan berkembang dengan pesat di Indonesia. Kita selaku generasi muda, lebih menyukai  akan budaya ini ketimbang budaya asli kita.

Baca Juga: Nova Sevira: Menguak Tabir Kebenaran Anies Baswedan Diundang di KTT-G20

Kita merasa lebih PD dan merasa lebih gaul jika  meniru budaya barat. Kasus lain adalah masalah tentang pengakuan budaya kita oleh Malaysia.  Tentu kita geram akan negara tetangga yang dengan seenaknya mengklaim budaya-budaya kita  seperti reog ponorogo, tari pendet, batik, lagu sayange, dan lain-lain.

Ini merupakan tamparan  keras bagi kita semua, rakyat Indonesia khususnya para generasi muda. Kita tidak bisa serta  merta menyalahkan Malaysia yang telah mengklaim budaya kita. Kita sebagai rakyat Indonesia  juga harus sadar akan kesalahan kita. Kita harus intropeksi diri kita. Berapa banyak dari kita 

yang sebelumya peduli pada budaya asli Indonesia sebelum kejadian seperti ini? Untuk itu  marilah kita sama-sama merenungkan dalam hati kita masing-masing. 

Baca Juga: Ingin Tidur Lebih Nyenyak dan Tanpa Gangguan? Berikut Caranya

Jika memang wayang kulit salah satu budaya yang kita miliki mengapa harus malu untuk  menontonnya? Jika memang batik itu juga bagian dari budaya kita, mengapa merasa malu  memakainya? Sudah seharusnya, kita bangga akan budaya kita sendiri. Karena bangsa lain pun  iri terhadap apa yang kita miliki. 

Pedulilah terhadap budaya kita, budaya Indonesia. Kita harus bangga menjadi orang  Indonesia! Bangga akan budaya Indonesia yang beragam! Sekarang nasib bangsa Indonesia ada  di tangan kita, jadi sudah waktunya kita melampaui tantangan-tantangan integrasi bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X