JournalNusantara.com/ SuaraMahasiswa - Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bagi bangsa Indonesia yang artinya “Berbeda beda tetapi tetap satu jua”. Bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan, dan lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Tatkala juga terdapat ratusan bahkan lebih suku bangsa yang ada di bumi Indonesia. Dari suku-suku ini kemudian terbentuk suatu ragam budaya yang berbeda antar satu sama lain.
Tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika, pastinya akan terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa peduli kepentingan bersama. Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan terpecah belah.
Baca Juga: Wida Apridalia: Redefinisi Semboyan Negara di Tengah Terpaan Kepentingan Global
Akhir-akhir ini, sungguh banyak sekali kasus-kasus yang telah mencemari istilah Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini sudah kita tanam sejak dulu. Saya ambil contohnya dalam kebudayaan saat ini yang dimana telah di deskripsikan diatas bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat kaya namun, berapa banyak budaya yang bisa kita sebutkan dari sedemikian banyaknya budaya yang dimiliki Indonesia?
Mungkin jawaban kita hanya bisa dihitung dengan jari. Ironis memang. Tapi inilah kenyataan yang ada. Kita, penerus generasi bangsa, seakan cuek terhadap budaya kita sendiri. Kita harus melestarikannya. Tapi mengapa malah tak peduli dan mengabaikannya?
Di era globalisasi ini budaya-budaya barat sangat mudah masuk ke Indonesia. Budaya ini tumbuh dan berkembang dengan pesat di Indonesia. Kita selaku generasi muda, lebih menyukai akan budaya ini ketimbang budaya asli kita.
Baca Juga: Nova Sevira: Menguak Tabir Kebenaran Anies Baswedan Diundang di KTT-G20
Kita merasa lebih PD dan merasa lebih gaul jika meniru budaya barat. Kasus lain adalah masalah tentang pengakuan budaya kita oleh Malaysia. Tentu kita geram akan negara tetangga yang dengan seenaknya mengklaim budaya-budaya kita seperti reog ponorogo, tari pendet, batik, lagu sayange, dan lain-lain.
Ini merupakan tamparan keras bagi kita semua, rakyat Indonesia khususnya para generasi muda. Kita tidak bisa serta merta menyalahkan Malaysia yang telah mengklaim budaya kita. Kita sebagai rakyat Indonesia juga harus sadar akan kesalahan kita. Kita harus intropeksi diri kita. Berapa banyak dari kita
yang sebelumya peduli pada budaya asli Indonesia sebelum kejadian seperti ini? Untuk itu marilah kita sama-sama merenungkan dalam hati kita masing-masing.
Baca Juga: Ingin Tidur Lebih Nyenyak dan Tanpa Gangguan? Berikut Caranya
Jika memang wayang kulit salah satu budaya yang kita miliki mengapa harus malu untuk menontonnya? Jika memang batik itu juga bagian dari budaya kita, mengapa merasa malu memakainya? Sudah seharusnya, kita bangga akan budaya kita sendiri. Karena bangsa lain pun iri terhadap apa yang kita miliki.
Pedulilah terhadap budaya kita, budaya Indonesia. Kita harus bangga menjadi orang Indonesia! Bangga akan budaya Indonesia yang beragam! Sekarang nasib bangsa Indonesia ada di tangan kita, jadi sudah waktunya kita melampaui tantangan-tantangan integrasi bangsa.
Artikel Terkait
Ini Dia Keutamaan Membaca Surat Al Kahfi Pada Hari Jumat
Bantuan Logistik dari Maluku Utara untuk Korban Gempa Cianjur Mulai Disalurkan
Bahaya Fentanil, Bisa Renggut 100.000 Nyawa Per Tahun di Philadelphia
Ribuan Orang Telanjang di Pantai Australia Gelar Kampanye Kanker Kulit
Himbauan BMKG Usai Gempa Garut 6.4M
Belum Ada Laporan Pengungsian di 5 Desa Yang Terdampak Gempa Garut
Ji Chang Wook, Aktor Korea Selatan Turut Berdonasi Untuk Korban Gempa Cianjur
Ingin Tidur Lebih Nyenyak dan Tanpa Gangguan? Berikut Caranya
Nova Sevira: Menguak Tabir Kebenaran Anies Baswedan Diundang di KTT-G20
Wida Apridalia: Redefinisi Semboyan Negara di Tengah Terpaan Kepentingan Global