Nur Afifah Auliyani : Kesatuan dalam Keragaman, Merawat Cinta di Tengah Kebhinekaan

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Jumat, 25 November 2022 | 00:22 WIB
Merawat Ibu Pertiwi, menjaga Cinta Tanah Air agar tidak tergerus oleh zaman.  (Pexels)
Merawat Ibu Pertiwi, menjaga Cinta Tanah Air agar tidak tergerus oleh zaman. (Pexels)

JournalNusantara.com - Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bagi bangsa Indonesia yang artinya “Berbeda beda tetapi tetap satu jua”. Bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari  beribu-ribu pulau, dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan, dan  lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Jumlah entitas yang begutu banyak, lebih kurang ratusan atau bahkan lebih suku bangsa yang ada di bumi Indonesia ini. Dari suku-suku tersebut kemudian terbentuklah ragam budaya yang berbeda antar satu dengan lainnya. 

Tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika, pastinya akan  terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana setiap orang  hanya mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa peduli kepentingan bersama.  Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan terpecah belah. 

Baca Juga: Sofa Nur Amal Nabila : Menjadi Sahabat Media Massa Online

Akhir-akhir ini, sungguh  banyak sekali kasus-kasus yang telah mencemari istilah Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini  sudah kita tanam sejak dulu. Saya ambil contohnya dalam kebudayaan saat ini yang dimana telah  di deskripsikan diatas bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat kaya namun, berapa  banyak budaya yang bisa kita sebutkan dari sedemikian banyaknya budaya yang dimiliki  Indonesia? Mungkin jawaban kita hanya bisa dihitung dengan jari. 

Mencintailah...
Mencintailah... (IStockphoto.com)

Ironis memang, tetapi inilah kenyataan yang ada. Kita, generasi penerus bangsa, seakan cuek terhadap budaya kita sendiri. Kita harus melestarikannya. Tapi mengapa malah tak peduli dan mengabaikannya? 

Di era globalisasi ini budaya-budaya barat sangat mudah masuk ke Indonesia. Budaya ini tumbuh dan berkembang dengan pesat di Indonesia. Kita selaku generasi muda, lebih menyukai  akan budaya ini ketimbang budaya asli kita. Kita merasa lebih PD dan merasa lebih gaul jika  meniru budaya barat. 

Baca Juga: Siti Sulistiyani : Televisi Masih Menjadi Media Mainstream yang Bergengsi

Kasus lain adalah masalah tentang pengakuan budaya kita oleh Malaysia.  Tentu kita geram akan negara tetangga yang dengan seenaknya mengklaim budaya-budaya kita  seperti reog ponorogo, tari pendet, batik, lagu sayange, dan lain-lain. Ini merupakan tamparan  keras bagi kita semua, rakyat Indonesia khususnya para generasi muda. 

Kita tidak bisa serta  merta menyalahkan Malaysia yang telah mengklaim budaya kita. Kita sebagai rakyat Indonesia  juga harus sadar akan kesalahan kita. Kita harus intropeksi diri kita. Berapa banyak dari kita yang sebelumya peduli pada budaya asli Indonesia sebelum kejadian seperti ini? Untuk itu  marilah kita sama-sama merenungkan dalam hati kita masing-masing. 

Jika memang wayang kulit salah satu budaya yang kita miliki mengapa harus malu untuk  menontonnya? Jika memang batik itu juga bagian dari budaya kita, mengapa merasa malu  memakainya? Sudah seharusnya, kita bangga akan budaya kita sendiri. Karena bangsa lain pun  iri terhadap apa yang kita miliki. 

Baca Juga: Siti Marsela : Citizen Journalism, Ancaman Bagi Media Mainstream ?

Pedulilah terhadap budaya kita, budaya Indonesia. Kita harus bangga menjadi orang  Indonesia! Bangga akan budaya Indonesia yang beragam! Sekarang nasib bangsa Indonesia ada  di tangan kita, jadi sudah waktunya kita melampaui tantangan-tantangan integrasi bangsa. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X