Dunia Barat dengan segala kemajuan material, perkembangan sains dan teknolog, khususnya dalam dunia informasi saat ini terbukti gagal memberikan ketenangan dan kebahagiaan hidup.
Sebuah realita bahwa hidup tanpa iman dan Islam adalah kehidupan yang gagal, walau bergelimang dengan kemajuan materi.
Realita ini harus menyadarkan kita untuk mensyukuri dan selalu meninggikan “value” atau nilai iman dan Islam kita.
ولكن الله حبب إليكم الإيمان وزينه في قلوبكم وكزه إليكم الكفر والفسوق والعصيان أولائك هم الراشدون. فضلا منالله ونعمة والله عليم حكيم
“Akan tetapi Allah menjadikan engkau mencintai keimanan, membenci kekufuran, kefasikan dan dosa-dosa. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Itulah keutamaan dan kenikmatan dari Allah. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana”.
Idul Adha dan Ketauladanan Ibrahim
Perayaan Idul Adha yang Umat Islam rayakan di seantero dunia sarat dengan makna dan nilai-nilai kehidupan yang sangat luar biasa.
Ada makna hidup dan ujian, makna ketaatan dan pengorbanan, makna soliditas mental dan kekokohan iman, sekaligus mengajarkan nilai-nilai kehidupan kolektif dan kepemimpinan.
Dan yang teristimewa dari semua itu adalah kenyataan bahwa semua ini sangat erat dengan sejarah hidup Ibrahim AS. Maka sangat wajar, jika perayaan Idul Adha itu adalah bentuk kenangan sekaligus ketauladanan kita kepada nabiyullah, Ibrahim AS.
Umat ini memang diperintah untuk menauladani Ibrahim AS:
واتبعوا ملة ابراهيم
“Dan teladanilah millah Ibrahim”
Haji, Ibrahim dan korban memang menjadi tema utama dari Idul Adha yang yang dirayakan. Karena memang Ibrahim menjadi simbol kesempurnaan dalam pengabdian dan kemuliaan akhlak.
Sementara haji adalah ibadah yang menjadi miniatur kehidupan manusia. Dan semua itu hanya dapat diwujudkan dengan semangat pengorbanan.
Ibrahimlah yang pertama kali diperintah untuk mengumandangkan kewajiban haji kepada umat manusia:
واذذن في الناس بالحج يأتوك رجالا وعلي كل ضامر يأتين من كل فج عميق
“Dan kumandangkan kepada manusia (kewajiban) haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kali dan mengendarai onta, datang dari berbagai penjuru yang jauh”.
*ketauladanan dalam proses hidayah*