Oleh: Yudi Latif
"Wahai mentari pagi, apa yang membuat hariku masih punya arti?"
Mentari tersenyum.
"Lihatlah aku. Setiap pagi engkau berkata aku terbit, seolah datang mengusir malam. Padahal aku tak timbul-tenggelam, melainkan tetap di tempatku; bumilah yang berputar hingga kembali menghadap terang.
Begitu pula hidupmu.
Jangan cepat percaya pada gelap yang kau rasakan. Tidak setiap malam berarti cahaya padam; kadang hanya hatimu yang membelakanginya.
Engkau berkata tubuhmu ringkih.
Semua yang hidup memang menuju rapuh: pohon lapuk, gunung terkikis, sungai bermuara ke laut.
Yang memuliakan hidup bukan kekuatan, melainkan kesediaan untuk tetap memberi meski perlahan kehilangan tenaga.
Engkau berkata jerih payahmu tak dihargai.
Siapa mengajarimu bahwa nilai hidup ditentukan tepuk tangan manusia?
Akar tak dipuji, namun darinya pohon berdiri. Mata air tak dikenang, namun darinya sungai mengalir.
Yang menyangga hidup bekerja dalam sunyi.
Engkau berkata negerimu kacau, masa depan tertutup kabut.
Benar. Tetapi tak ada pelayaran yang menunggu laut tanpa ombak. Tak ada pelaut menunggu kabut tersingkap untuk mengangkat layar.