opini

Di Cianjur Eyang Suryakancana Berwujud Universitas Bukan Kereta Kencana

Rabu, 6 Mei 2026 | 20:46 WIB
Zenal Mukhlis (Kader Muda PMII Cianjur). (FOTO: Ist)

Narasi tentang Eyang Surya Kencana yang berwujud universitas seharusnya menjadi pemicu kesadaran kolektif. Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan perubahan cara berpikir dan bertindak. Jika pengetahuan benar-benar dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, maka institusi pendidikan akan berfungsi sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan daerah.

Namun, di tengah situasi warga yang masih berjuang menghadapi dampak bencana pergerakan tanah yang sulit di Kabupaten Cianjur, kebijakan pengalokasian anggaran untuk kegiatan seremonial seperti kirab budaya patut dipertanyakan.

Ketika masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, prioritas anggaran daerah seharusnya berpihak pada kebutuhan paling mendesak: keselamatan dan kesejahteraan rakyat.

Kegiatan kirab budaya seperti Binokasih Sanghyang memang memiliki nilai historis sebagai identitas dan warisan tradisi. Namun, nilai tersebut kehilangan sensitivitas sosialnya ketika dilaksanakan di tengah krisis kemanusiaan yang belum sepenuhnya tertangani. Di sinilah letak persoalan etis dalam kebijakan publik: apakah pemerintah mampu membaca situasi dengan empati, atau justru terjebak pada simbolisme yang tidak kontekstual?

Secara rasional, anggaran untuk kegiatan kirab dapat dipertimbangkan untuk dialihkan ke penanganan korban bencana. Pemerintah daerah memiliki instrumen seperti APBD dan pos Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk merespons kondisi darurat.

Jika mekanisme ini tidak dimaksimalkan, maka publik secara wajar akan mempertanyakan komitmen keberpihakan pemerintah. Ini bukan sekadar soal teknis anggaran, melainkan cerminan arah politik kebijakan.

Kritik ini bukan untuk menegasikan budaya, melainkan menempatkannya secara proporsional. Budaya akan tetap hidup jika manusianya bertahan. Dalam situasi krisis, keberpihakan terhadap korban bencana adalah panggilan moral yang utama.

Sebaliknya, jika kita abai, maka kita hanya menyaksikan perpindahan mitos ke dalam bentuk yang lebih modern tanpa perubahan esensial. Tugas generasi muda adalah memastikan bahwa transformasi tersebut tidak berhenti pada wacana, tetapi terwujud dalam praktik nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Halaman:

Tags

Terkini

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB

Apa yang Harus Dilakukan Prabowo?

Senin, 8 Juni 2026 | 10:38 WIB

Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia

Minggu, 7 Juni 2026 | 07:56 WIB

Meruntuhkan Tembok Nepotisme

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:15 WIB

Merajut Keadilan, Mengikis Kolusi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:12 WIB

Menghancurkan Benalu Korupsi

Jumat, 5 Juni 2026 | 13:02 WIB