Narasi tentang Eyang Surya Kencana yang berwujud universitas seharusnya menjadi pemicu kesadaran kolektif. Transformasi yang dimaksud bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan perubahan cara berpikir dan bertindak. Jika pengetahuan benar-benar dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, maka institusi pendidikan akan berfungsi sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan daerah.
Namun, di tengah situasi warga yang masih berjuang menghadapi dampak bencana pergerakan tanah yang sulit di Kabupaten Cianjur, kebijakan pengalokasian anggaran untuk kegiatan seremonial seperti kirab budaya patut dipertanyakan.
Ketika masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, prioritas anggaran daerah seharusnya berpihak pada kebutuhan paling mendesak: keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Kegiatan kirab budaya seperti Binokasih Sanghyang memang memiliki nilai historis sebagai identitas dan warisan tradisi. Namun, nilai tersebut kehilangan sensitivitas sosialnya ketika dilaksanakan di tengah krisis kemanusiaan yang belum sepenuhnya tertangani. Di sinilah letak persoalan etis dalam kebijakan publik: apakah pemerintah mampu membaca situasi dengan empati, atau justru terjebak pada simbolisme yang tidak kontekstual?
Secara rasional, anggaran untuk kegiatan kirab dapat dipertimbangkan untuk dialihkan ke penanganan korban bencana. Pemerintah daerah memiliki instrumen seperti APBD dan pos Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk merespons kondisi darurat.
Jika mekanisme ini tidak dimaksimalkan, maka publik secara wajar akan mempertanyakan komitmen keberpihakan pemerintah. Ini bukan sekadar soal teknis anggaran, melainkan cerminan arah politik kebijakan.
Kritik ini bukan untuk menegasikan budaya, melainkan menempatkannya secara proporsional. Budaya akan tetap hidup jika manusianya bertahan. Dalam situasi krisis, keberpihakan terhadap korban bencana adalah panggilan moral yang utama.
Sebaliknya, jika kita abai, maka kita hanya menyaksikan perpindahan mitos ke dalam bentuk yang lebih modern tanpa perubahan esensial. Tugas generasi muda adalah memastikan bahwa transformasi tersebut tidak berhenti pada wacana, tetapi terwujud dalam praktik nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Manusia dan Kuasa (Bagian 2200)
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem
Strategi Meningkatkan Kecepatan Menulis Bagi Jurnalis Digital
Seni Mengolah Kata Dalam Menulis Puisi Yang Indah
Anggaran Puluhan Miliar Untuk Perumdam Tirta Mukti Cianjur Dipertanyakan
Mutiara Pagi: Anugerah Terindah (Bagian 2201)
Ironi Keadilan
Analisis Kritis Kontribusi PAD Perumdam Tirta Mukti Cianjur
23 Nama Bersaing Rebut Kursi Pimpinan BAZNAS Cianjur, Uji Kompetensi Jadi Penentu Pekan Ini
Inovasi SPPG Cianjur Cilaku Sirnagalih 1, Siswa Nikmati Makan Bergizi dengan Sistem Prasmanan