opini

Kritisisme, Basirah, dan Seni Mendeteksi Zaman

Selasa, 26 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi Jam (Meta AI)

Basirah melahirkan manajemen risiko. Nabi Ya‘qub AS. mengajarkan ikhtiar strategis kepada putra-putranya:
يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ
“Wahai anak-anakku, jangan kalian masuk dari satu pintu, masuklah dari pintu-pintu yang berbeda.” (QS. Yūsuf: 67)

Ini adalah etos diversifikasi risiko, mencegah satu titik gagal melumpuhkan seluruh ikhtiar.

Rasulullah SAW. merumuskan ketajaman praktis dalam sabda singkat namun strategis:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah (untamu), lalu bertawakkallah.” (HR. Tirmiżī)

Ikhtiar sistematis lebih dulu, tawakkal sesudahnya. Dan ketajaman itu juga berwujud pembelajaran dari luka:
«لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»
“Seorang mukmin tidak (boleh) tersengat dari lubang yang sama dua kali.” (Muttafaq ‘Alaih)

Untuk menolak manipulasi, Islam menegaskan disiplin radd al-khabar (disiplin merujuk pada otoritas dan ahlinya):
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu menarik kesimpulan (istimbath) akan mengetahuinya.” (QS. An-Nisā’: 83)

Ilmu bukan hanya hak, ia adalah jalan menuju Allah:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Sementara Umar ibn al-Khattab RA. menajamkan lensa muhasabah:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.”

Dan Ali ibn Abi Thālib ra. memberi kompas kebenaran:
اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ
“Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa ahlinya.”

Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah menanam adab perbedaan yang mencegah kita menjadi alat dari opini:
رأيي صوابٌ يحتمل الخطأ، ورأي غيري خطأٌ يحتمل الصواب
“Pendapatku benar tetapi mungkin salah; pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.”

Dan Al-Ghazali menggambarkan mesin tajam itu dengan singkat:
التَّفَكُّرُ مِفْتَاحُ الْأَنْوَارِ، وَمَبْدَأُ الِاسْتِبْصَارِ»
“Tafakkur adalah kunci cahaya, permulaan dari kejernihan pandang.”

Ketajaman “mata elang” dalam Islam adalah basirah yang lahir dari takwa, ilmu, muhasabah, dan adab.

Ia bukan sinisme yang curiga pada semua hal, tapi kesiagaan penuh kasih, yang mencegah kerusakan sebelum ia menjadi bencana.

Penyebab tumpulnya penglihatan batin kita sering sama, ego yang menghendaki kemenangan cepat, budaya viral yang menghadiahi sensasi, sistem yang memanjakan loyalitas tanpa mutu, dan pendidikan yang mengukur capaian dengan angka, bukan dengan akal jernih dan budi pekerti.

Dari penyebab itu lahir tanda-tanda: mudah termakan kabar yang kita sukai, alergi pada data yang berlawanan, gemar menyimpulkan sebelum memahami, berani berkomentar, enggan bertanggung jawab, vokal di permukaan, hening di ruang kajian.

Obatnya bukan satu, melainkan ekosistem adab.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB