opini

Kritisisme, Basirah, dan Seni Mendeteksi Zaman

Selasa, 26 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi Jam (Meta AI)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah kita menguji pandang batin sendiri sembari menghadirkan pertanyaan, apakah mataku sekadar melihat permukaan, atau menembus jaringan sebab-akibat yang tersembunyi?

Pernahkah kita bertanya: “Jika kabar itu menggoda, apa akalku memverifikasi, atau hanya melahapnya karena sesuai selera?”

Sudahkah kita memikirkan skenario terburuk agar dapat menempuh skenario terbaik, atau justru kita hanyut dalam optimisme tanpa perhitungan?

Dan di tengah laju warta, opini, algoritma yang menggiring rasa, apakah aku menjadi penganut kebenaran, atau sekadar penikmat pembenaran?

*Elang di Langit, Basirah di Hati*

Elang tidak tergesa. Ia mengambil ketinggian, menyablon peta dari udara, mengenali pola gerak, mengukur arah angin, lalu menukik hanya ketika saatnya tepat.

Ketajaman matanya bukan sekadar anugerah biologis, ia adalah disiplin perspektif, melihat luas agar paham rinci, menimbang rinci agar tepat mengambil keputusan.

Inilah metafora basirah, mata batin yang jernih, yang oleh Islam ditempa dengan taqwa, ilmu, dan adab.

Allah SWT. memerintahkan visi jauh ke depan, kemampuan antisipatif yang cermat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk esok (hari).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ketajaman elang itu juga adalah etika verifikasi, tidak menyambar setiap bayangan. Maka Al-Qur’an mengikat akal sehat kita dengan adab memeriksa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah (kebenarannya).” (QS. Al-Ḥujurāt: 6)

Dan lebih jauh, Islam melarang langkah yang tak bertanggung jawab, yang lahir dari prasangka tanpa data:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak engkau punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36)

Elang memadukan jarak dan kedekatan, tinggi untuk memetakan, tajam untuk memutuskan.

Demikian pula insan beriman: tinggi ilmunya, tajam nuraninya. Allah bertanya retoris:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang tahu dengan yang tidak tahu? Hanya Ulul Albab (pemilik akal jernih) yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB