Film-film Iran dikenal menyentuh dan memenangi penghargaan internasional. Mereka menyampaikan nilai moral dan spiritual tanpa propaganda.
Hollywood, meski megah, sering hanya menjual kekerasan, seksualitas, dan konsumerisme. Hiburan menjadi industri, bukan lagi sarana refleksi jiwa.
8. Inovasi Karena Keterbatasan
Embargo membuat Iran mandiri dan kreatif. Mereka membangun sendiri sistem keamanan digital, pertahanan, dan teknologi vital.
Sementara banyak negara maju justru bergantung pada sistem subkontrak dan korporasi global.
9. Kesehatan untuk Semua vs Asuransi Mahal
Iran menyediakan layanan kesehatan murah, bahkan gratis, untuk rakyatnya.
Bandingkan dengan Amerika, di mana tanpa asuransi, rakyat bisa kesulitan mendapat perawatan. Kesehatan menjadi komoditas.
10. Transportasi Publik Murah dan Modern
Iran memiliki metro bawah tanah modern di kota besar seperti Tehran. Tiket? Hanya sekitar Rp3.500–Rp5.000 sekali jalan. Bersih, cepat, dan terjangkau.
Lebih mencengangkan, harga bensin subsidi di Iran hanya sekitar Rp3.000–Rp5.000 per liter—setengah dari harga Pertalite di Indonesia saat ini.
Penutup
Setelah menutup telepon sore itu, saya terdiam cukup lama. Kata-kata Pak Haji Mustofa terus menggema.
Iran bukan negeri yang sempurna. Namun di tengah gempuran globalisasi dan tekanan, mereka tetap berdiri di atas kaki sendiri. Mereka membangun, memproduksi, dan menjaga jati diri bangsanya.
Kita pun bisa. Indonesia bisa. Bukan dengan meniru Iran sepenuhnya, tetapi dengan merenung dan belajar: bahwa bangsa besar lahir dari rakyat yang percaya pada kekuatan dalam negeri sendiri.