Oleh: Asrul Sani Abu (Ketua Bidang Hubungan Internasional APINDO Sulsel | Alumni Lemhannas)
Kemarin, di tengah panasnya konflik bersenjata antara Iran dan Israel, saya tergerak untuk menghubungi seorang sahabat lama, Pak Haji Mustofa.
Beliau adalah seorang qari internasional yang pernah menjuarai MTQ tingkat dunia di Iran dan juga pernah bertugas di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta.
Pria berpenampilan tegas, berperawakan seperti tentara, namun murah senyum dan bersahaja ini memiliki suara yang mampu mengguncang hati saat melantunkan ayat-ayat suci. Bacaan Al-Qur’annya membawa jiwa, bukan sekadar suara.
Saat saya menelepon, suaranya tetap sehangat dulu.
“Alhamdulillah sehat, Bapak Asrul Sani. Dunia boleh gaduh, tapi hati kita harus tetap lapang.”
Percakapan kami mengalir deras, seperti sungai yang kembali menemukan muaranya. Kami berbincang tentang Iran—negeri yang kini menjadi sorotan dunia, namun justru makin memperlihatkan jati diri dan keteguhannya di tengah tekanan.
“Banyak orang salah menilai Iran. Mereka kira itu negeri miskin yang keras kepala. Padahal, Iran adalah peradaban agung. Negeri yang tahu siapa dirinya,” ujar Pak Haji Mustofa.
Saya tertegun. Dari obrolan kami, saya menyusun kembali potongan-potongan fakta yang jarang diketahui banyak orang Indonesia.
1. Pemimpin Ulama vs Presiden Pengusaha
Iran dipimpin oleh Rahbar, ulama tertinggi yang dipilih oleh Dewan Ahli, bukan oleh partai atau pemilik modal. Presiden hanya menjalankan pemerintahan harian.
Bandingkan dengan Amerika, di mana pemimpin sering kali berasal dari kalangan pengusaha besar yang terpilih melalui kampanye miliaran dolar. Kebijakan sering ditentukan oleh kekuatan dana, bukan kebijaksanaan.
2. Embargo Menguatkan vs Globalisasi Melemahkan
Iran hidup di bawah embargo ketat, tapi justru dari tekanan itu mereka bangkit: mengembangkan teknologi sendiri, memproduksi vaksin, menguasai sistem pertahanan siber, hingga membuat drone tempur.