Urang Tatar Sunda Naik Haji, Bratalegawa Alias Haji Purwa, Gelar Haji bukan Pemberian Pemerintah Belanda (Bagian 1)
oleh : Nunu Ahmad Hamijaya
Baru saja usai, pelaksanaan ibadah Haji di Mekkah untuk tahun ini (1444/2023). Menarik mengkaji ibadah ‘pamuncak’ ini dari banyak aspeknya, termasuk ideologi-politik Islam Mondial, karena Mekkah dan Ka’bah menjadi epicentrum berbagai bangsa muslim di 4 (empat) penjuru angin.Tradisi ini sejatinya sudah dirintis sejak Adam AS membangun Bakka dan Ibrahim AS – Ismail AS melakukan renovasinya.
Baca Juga: Nunu A. Hamijaya Penulis Sejarah Asal Cianjur, Bukunya Diminati Anggota Kedubes Amerika dan Pakistan
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali di dibangun (di bumi) untuk (tempat beribadah) manusia adalah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang memiliki berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 96).
Dalam Surat As Sura ayat 7, yang artinya: Demikianlah kami wahyukan kepadamu Alquran yang berbahasa Arab, agar kamu memberi peringatan kepada penduduk ummul qura (kota Makkah) dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Menurut doktor bidang bidang biofisika (Universitas Stockholm Sverige, Skandinavia) Abdul Basith Muhamad AS-Sayid, salah satu anggota Haiah al-I’jaz al-ilmi lil Quran wa as-Sunah (Majelis Keajaiban Ilmiyah Alquran dan sunah) menyatakan bahwa ayat ini menjadi dasar naqliyyah bahwa Makkah adalah pusat bumi. Karena pengikut Rasulullah harus berada di radius yang sama dari berbagai arah mata angin.
Baca Juga: MAHATALA UNPI Peringati HUT Cianjur ke-346 dengan Ekspedisi 12 Puncak Tertinggi
“(ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat BAITULLAH (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah Ku ini bagi orang-orang yang thawaf…” (QS. Al Haj: 26).
Secara geografis, Kota Makah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah Timur Laut kota Jeddah. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung-gunung dengan bangunan Kakbah sebagai pusatnya. Kakbah terletak di kompleks Masjidil Haram.***
Bersambung......
Nunu Ahmad Hamijaya adalah penulis buku Titiknol Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur 1916),2018, Toedjoeh Kata,2019, Tjisajong dan Bangka : Revolusi Islam Bernegara di Indonesia (1916-1962), terbit 2021 dan Negeri 3 Proklamasi, 2022 (Penerbit Pusbangter).
Artikel Terkait
Hadapi Pemilu 2024, Demokrat-Gerindra Sepakat Jaga Stabilitas Politik Nasional
KPK Perkuat Kerjasama Lintas Kementerian dan Lembaga
TAKM Desak Pemda Cianjur Segera Tindaklanjut Pengaduan Warga Terdampak Gempa
Melalui Hari Jadi Cianjur ke 346 , MP3C Berharap Pemerintah Tingkatkan Pelestarian Padi Pandanwangi
Pembangunan Cianjur Berbasis Integritas Kepemimpinan
Karnaen Menilai Pengadilan Agama Cianjur Berstatus Kelas A Diakibatkan Tingginya Jumlah Perkara Yang Ditangani
Kasus di Cianjur Meningkat, Kajari Gelar Kegiatan Pemusnahan Barang Bukti Narkoba
MAHATALA UNPI Peringati HUT Cianjur ke-346 dengan Ekspedisi 12 Puncak Tertinggi
Kordes dan Peserta KKN Desa Cikadu Bersama Camat Sindangkerta KBB Solid Berdayakan Warga Desa
Nunu A. Hamijaya Penulis Sejarah Asal Cianjur, Bukunya Diminati Anggota Kedubes Amerika dan Pakistan