Oleh: Dahlan Iskan
Pasukan Wegner saat melakukan pergerakan di Moskow, Rusia. Inilah yang disebut kudeta setengah hati. Bahkan seperempat.
Dunia sempat tertegun. Moskow di-lockdown. Kembali jadi kota mati, kali ini menegangkan. Yang mau kudeta sudah berbaris bersenjata: tinggal 200 km dari ibu kota Rusia.
Mereka adalah tentara yang lagi kecewa. Tentara swakarsa. Harapan mereka untuk segera menguasai seluruh Ukraina tidak kunjung terlaksana. Padahal mereka sudah 14 bulan berperang di sana.
Mereka menilai, menteri pertahanan yang berkuasa di ibu kota sana setengah hati. Menhan Sergei Shoygu dinilai kurang memberikan dukungan penuh untuk pasukan swakarsa di garis depan.
Puncak kekecewaan itu terjadi mengikuti satu tragedi: roket tentara Rusia ditembakkan ke wilayah yang dikuasai tentara swaskarsa. Akibatnya banyak pejuang swakarsa tewas. Kecurigaan pun muncul: Menteri Pertahanan Shoygu sengaja memperlemah pasukan tentara swakarsa.
Maka mereka meninggalkan garis depan di Ukraina: berkumpul di kota pelabuhan dekat perbatasan. Di kota Rostov-on-Don. Praktis kota di muara sungai Don ini dikuasai tentara swakarsa.
Baca Juga: Idul Adha dan HUT Bhayangkara ke-77, Polri Distribusikan 9.300 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia
Di kota berpenduduk 1 juta jiwa itu mereka melampiaskan ketidakpuasan pada pusat. Emosi mereka tercampur dengan gosip politik dan kekuasaan.
Mereka pun menyusun kekuatan: konvoi menuju Rusia. Kekuatan mereka antara 20.000 sampai 50.000 orang bersenjata. Termasuk senjata berat. Panser. Tank. Semua ikut menuju Moskow.
Mereka akan mengambil alih kekuasaan. Agar perang di Ukraina cepat selesai. Ukraina segera dikuasai.
Panglima mereka, Yevgeny Prigozhin, tidak tahan lagi melihat pasukannya jadi sasaran roket negaranya sendiri.
Presiden Ukraina Zelenzkyy mendadak senang: Rusia yang menyerang negaranya ternyata kacau sendiri.
Pikir Zelenskyy: Ukraina bisa tiba-tiba menang. Barat harus memanfaatkan momentum ini. Ia minta negara Nato meningkatkan pengiriman senjata ke garis depan.
Tapi konvoi bersenjata tentara swakarsa itu mendadak berhenti. Presiden Belarus Aleksander Lukashenko, terus berbicara dengan panglima mereka. Keduanya bersahabat sejak lama. Lukashenko merayu Prigozhin untuk jangan meneruskan kudetanya.
Artikel Terkait
Denny Indrayana Menilai Anies Kemungkinan Akan Jadi Tersangka KPK Agar Gagal Nyapres
Sapi Qurbannya Ditolak RT dan Diminta Uang 100 Jt Dewi Perssik Protes Keras, Videonya Viral di Medsos
Harta Kekayaan Anggota DPRD Harus Dipantau Bersama dan Diketahui Masyarakat
Kereta Cepat Indonesia Bersaing di Dunia
Alni Febrianingsih, Mahasiswi Institut Kesehatan Rajawali Bandung Bicara Pentingnya Berhijab
Antrian dan Panggilan Haji
Polres Cianjur Ungkap 6 Kasus Perdagangan Orang, Pelaku Diancam Penjara Maksimal 15 Tahun
Idul Adha dan HUT Bhayangkara ke-77, Polri Distribusikan 9.300 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia
Partai Demokrat Cianjur Gelar Qurban Bersama Warga Terdampak Gempa
Politik Balas Jasa Pasca Pilkada