Preman Tuan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 30 Juni 2023 | 14:42 WIB
Foto: Wagner Group uji nyali melakukan kudeta ke Rusia. Seberapa kuat tentara bayaran ini dengan tentara Rusia? (Twitter:@vitayaukraine)
Foto: Wagner Group uji nyali melakukan kudeta ke Rusia. Seberapa kuat tentara bayaran ini dengan tentara Rusia? (Twitter:@vitayaukraine)


Oleh: Dahlan Iskan

Pasukan Wegner saat melakukan pergerakan di Moskow, Rusia. Inilah yang disebut kudeta setengah hati. Bahkan seperempat.

Dunia sempat tertegun. Moskow di-lockdown. Kembali jadi kota mati, kali ini menegangkan. Yang mau kudeta sudah berbaris bersenjata: tinggal 200 km dari ibu kota Rusia.

Mereka adalah tentara yang lagi kecewa. Tentara swakarsa. Harapan mereka untuk segera menguasai seluruh Ukraina tidak kunjung terlaksana. Padahal mereka sudah 14 bulan berperang di sana.

Mereka menilai, menteri pertahanan yang berkuasa di ibu kota sana setengah hati. Menhan Sergei Shoygu dinilai kurang memberikan dukungan penuh untuk pasukan swakarsa di garis depan.

Puncak kekecewaan itu terjadi mengikuti satu tragedi: roket tentara Rusia ditembakkan ke wilayah yang dikuasai tentara swaskarsa. Akibatnya banyak pejuang swakarsa tewas. Kecurigaan pun muncul: Menteri Pertahanan Shoygu sengaja memperlemah pasukan tentara swakarsa.

Maka mereka meninggalkan garis depan di Ukraina: berkumpul di kota pelabuhan dekat perbatasan. Di kota Rostov-on-Don. Praktis kota di muara sungai Don ini dikuasai tentara swakarsa.

Baca Juga: Idul Adha dan HUT Bhayangkara ke-77, Polri Distribusikan 9.300 Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia

Di kota berpenduduk 1 juta jiwa itu mereka melampiaskan ketidakpuasan pada pusat. Emosi mereka tercampur dengan gosip politik dan kekuasaan.

Mereka pun menyusun kekuatan: konvoi menuju Rusia. Kekuatan mereka antara 20.000 sampai 50.000 orang bersenjata. Termasuk senjata berat. Panser. Tank. Semua ikut menuju Moskow.

Mereka akan mengambil alih kekuasaan. Agar perang di Ukraina cepat selesai. Ukraina segera dikuasai.

Panglima mereka, Yevgeny Prigozhin, tidak tahan lagi melihat pasukannya jadi sasaran roket negaranya sendiri.

Presiden Ukraina Zelenzkyy mendadak senang: Rusia yang menyerang negaranya ternyata kacau sendiri.

Pikir Zelenskyy: Ukraina bisa tiba-tiba menang. Barat harus memanfaatkan momentum ini. Ia minta negara Nato meningkatkan pengiriman senjata ke garis depan.

Tapi konvoi bersenjata tentara swakarsa itu mendadak berhenti. Presiden Belarus Aleksander Lukashenko, terus berbicara dengan panglima mereka. Keduanya bersahabat sejak lama. Lukashenko merayu Prigozhin untuk jangan meneruskan kudetanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X