Tikungan Inkonsistensi Lahir-Batin dan Halal bi Halal

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 27 April 2023 | 12:22 WIB
Ilustrasi Halal Bihalal di Indonesia (istok)
Ilustrasi Halal Bihalal di Indonesia (istok)

Baca Juga: Prakiraan Cuaca, Kamis 26 April 2023: Siapkan Payung dan Jas Hujan

Berpuasa adalah proses pelatihan agar ego lahiriah manusia jangan sampai mengalahkan entitas asali yang sudah suci sedari dulu, yakni ruh.

Ego lahiriah mendorong maksiat batin yang perlu diminimalisir agar berjalan seimbang antara lahir dan batin. Moderasi antara lahir dan batin tersebut perlu dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan fitrawi kita, sehingga puasa tidak perlu dilakukan selama 24 jam.

Buka puasa, selama tidak berlebihan (rakus), membuat pekerjaan batin lainnya (salat, berdoa, dan tarawih) tidak terganggu oleh rasa kantuk karena lonjakan gula darah yang tinggi akibat sifat konsumtif yang berlebihan. Dengan demikian, berpuasa, selama mengetahui makna hakikat batinnya, akan melahirkan kesehatan jasad kita.

Paradoks Makna Lahir-Batin
Setelah berpuasa, lelaku spiritual setelahnya adalah bermaaf-maafan sebagai bentuk perbaikan hubungan batin kepada sesama manusia.

Saling bermaafan sebagai manusia spiritual seyogyanya melibatkan dua hal utuh dalam alam mikrokosmos pada diri manusia, yaitu lahiriah dan batiniah.

Seringkali kita mengabaikan esensi bermaafan dengan tindakan kita sehari-hari. Kita bisa bermaafan secara lahiriah, tapi tidak secara batiniah hanya gara-gara perbedaan sudut pandang.

Kita seringkali bermaafan, tapi tidak melibatkan batiniah kita hanya gara-gara perbedaan suku, golongan, bahkan perbedaan ormas. Kita layaknya manusia yang paradoks. Maaf-maafan lahir batin hanya berupa seuntai kata yang keluar dari mulut yang bersifat formalitas belaka.

Di sisi lain, kita juga memendam tindakan aksiologis maksiat batin sebelum bermaafan dan dilakukan setelah bermaafan. Proses sikut menyikut karena berbeda jalan ornamen organisasi dilakukan pasca bermaafan. Bermaafan hanya sekedar ritual di masjid, rumah, ritual silaturrahim, dan tempat pengajian umum saja.

Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan - 27

Ironisnya, hal demikian dapat pula terjadi di kehidupan perkantoran dan kampus dengan segala warna politiknya. Kita mengabaikan esensi bermaafan karena kita hanya memendam aksi sikut-menyikut setelah bermaafan. Pada akhirnya, makna esensi bermaafan lahir dan batin sering terlupakan.

Perjuangan bersama membangun kampus, kesejarahan klasik pendirian kampus-kampus institusi keagamaan yang didirikan oleh rantai antaraliansi golongan, menjadi tercederai gara-gara perbedaan fanatisme terhadap ornamen yang disematkan pada keseharian.

Seandainya “maaf lahir-batin” disikapi dengan mengikuti kaidah sesuai dengan esensinya, maka pertarungan adil dan kompeten antargolongan perlu dipertimbangkan untuk menjalani kebijakan yang hanif dan lurus.

Hal demikian menjadi keniscayaan karena “maaf lahir-batin” adalah urusan spiritual yang mampu mendekatkan kita kepada _allahul-muwafiq ilaa aqwamith thariiq_ (Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya).

Perenungan Allah sebagai dzat seharusnya dimaknai dari ruh yang ditiupkan oleh-Nya. Ketika ruh memenuhi ruang lahiriah jasad kita, maka lahirlah kita sebagai manusia.

Namun demikian, Rasulullah mengingatkan kita sebagai al insaanu hayawanun nathiq. Kita rentan memiliki ego hewaniah dan memiliki kelebihan bicara. Kelebihan dan kekurangan menjadi satu paket dalam diri manusia, makhluk yang rentan untuk khilaf dan lupa.

Baca Juga: Polri Sebut Jumlah Laka Lantas Mudik 2023 Turun Hingga 19%
Apa yang menegur manusia ketika lupa dan melakukan kekhilafan? Di situlah inti ruh berbicara melalui jantung yang berdegup kencang. Marah, emosi, hasud, sikut-menyikut, pamer, cemburu sosial, cinta dunia yang berlebihan, dan maksiat batin lainnya akan menjadi musuh besar ruh dalam diri manusia yang seringkali menegur kita melalui jantung.

Puasa ramadan dihadirkan sebagai bulan pelatihan batiniah kita. Namuan demikian, jika setelah berpuasa dan “saling-bermaaafan” kita masih menyalahi batin kita dan masih memenuhi ego jasad untuk tidak menuju dzat ilahiah yang ditiupkan dalam diri kita, maka puasa ramadan dan “saling-bermaafan” hanya sekedar ritual wajib tahunan.

Esensi latihan batin dan upaya menuju insan spiritual diharapkan mampu menjadi tuntunan kepada dzat yang memberi petunjuk menuju jalan yang lurus selurus-lurusnya dalam beriman-beragama, berbangsa dan bernegara seperti apa yang diharapkan dalam kalimat penutup tulisan ini.

Baca Juga: Wapres Intruksikan TNI Polri Perkuat Strategi Keamanan di Papua

Wallahulmuwafiq ilaa aqwami thariiq. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X