Jangankan makan dan tidur, hubungan suami isteri pun tidak lepas dari nilai-nilai ruhiyah itu. Sehinggga disebutkan bahwa hubungan yang tidak dimulai dengan doa perlindungan dari syetan, anak yang tercipta dari hubungan itu akan ikut terpengaruh syetan.
Baca Juga: KPK Raih Penghargaan Digital Government Award
Bahkan keluar masuk WC sekalipun semuanya memiliki nilai-nilai ruhiyah karena bersentuhan langsung dengan nilai-nilai samawi (ruhiyah). Meminta perlindungan dari syetan “Allahumma inni auzdu bika minal khubutsi wal khabaaits”.
Apalagi aspek ritual agama ini. Dari sholat, puasa, haji dan ragam bentuk ibadah ritual, semuanya secara mendasar dimaksudkan untuk menumbuh suburkan nilai-nilai ruhiyah manusia. Karena pada semua amalan itu “dzikrullah" yang menjadi esensi dasarnya.
Sholat yang kosong dari dzikir (mengingat Allah) dikategorikan oleh Al-Quran sebagai sholat kemunafikan (laa yadzjuruna Allah illa qalila). Bahkan terancam dengan neraka “wael”.
Puasa secara khusus penuh dengan nilai-nilai spiritualitas (ruhiyah). Makan sahur itu bukan sekedar makan pagi. Tapi sebuah amalan ibadah yang padanya dijanjikan “barokah”.
“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu ada barokah” (hadits).
Barokah itu adalah nilai tambah karena bersentuhan langsung dengan Allah (Tabaraka). Sehingga dengan sendirinya merupakan “penguatan ruh” yang memang langsung dari Allah (ruhina).
Singkatnya semua amalan yang terjadi di Bulan Ramadan, sholat-sholat sunnah, baca Al-Quran, Tarawih dan qiyaam, hingga kepada sadaqah dan bahkan tidur sekalipun bernilai spiritualitas.
Baca Juga: Ribuan Peserta Hadiri Acara Jalan Sehat Partai Gerindra Bali
Puasa diakhiri dengan berbuka puasa (Iftar). Sebuah amalan yang bukan sekedar makan malam seperti biasanya. Tapi semua amalan yang sarat dengan nilai ruhiyah.
Karenanya doa berbuka dikaitkan langsung dengan ikatan Ilahi: “untuk Engkau Aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu juga aku berbuka puasa. Maka terimalah dariku. Sunnguh Engkau Maha mendengar lagi Maha melihat”.
Karenanya bulan Ramadan ini harus menjadi momentum yang baik dalam membangun kehidupan ruhiyah yang solid. Kerapuhan nilai-nilai spiritualitas menjadikan manusia terombang-ambing dalam pergerakan gelombang dunia yang tiada akhir.
Kehidupan materialistis, konsumeris dan hedonistis yang terbangun di atas paham kapitalisme menjadikan manusia semakin rakus dan kehilangan nuraninya.
Akibatnya dalam dunia yang kerap kali diakui sebagai dunia modern, manusia yang seharusnya lebih beradab (civilized), justeru seringkali berkarakter biadab. Bahkan lebih biadab dari hewan.
Artikel Terkait
Polres Sukabumi Musnahkan Barang Bukti Hasil Operasi Pekat Lodaya 2023
Jalan Sinagar-Cipelah Pasir Kuda Segera Diperbaiki
Memaknai Keberkahan Ramadan - 05
KPK Jalin Kerjasama Bareng Bappenas RI
Keajaiban Jumlah Raka'at Shalat Tarawih
'Ngabaperan' Cara Pelajar NU Kabupaten Cianjur Isi Kegiatan Ramadhan
BEM PTNU Se-Nusantara Sambangi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bahas Cultural Camp Nasional 2023
Ribuan Peserta Hadiri Acara Jalan Sehat Partai Gerindra Bali
KPK Raih Penghargaan Digital Government Award
Gelar Sanlat, BKPRMI Cianjur Usung Semangat Pemuda Cinta Masjid