Oleh: Imam Shamsi Ali
Mungkin di antara keberkahan terpenting dari bulan Ramadan adalah rahmah dan magfirah Allah SWT. Bahwa bulan ini adalah bulan di mana Allah membuka pintu-pintu yang maha luar akan kasih sayang dan ampunanNya untuk hamba-hambaNya.
Sesungguhnya sisi sifat Allah yang paling dominan adalah rahmah atau kasih sayangNya. Hanya saja, sejak lama Islam disalah pahami seolah Islam kurang kasih sayang.
Konsep ketuhanan kerap kali ditampilkan sebagai Tuhan yang kasar, bengis, tiada belas kasih. Kebodohan bahkan kebohongan ini sengaja dipromosikan untuk menumbuhkan rasa takut, bahkan kebencian kepada Islam.
Padahal jika dikaji semua aspek ajaran agama ini, mulai dari konsep teologisnya, amalan ritual, hingga ke muamalahnya mengajarkan kasih sayang itu.
Ampunan Allah
Karakteristik Allah yang Maha “Rahman” dalam ajaran Islam, salah satunya terefleksi dalam bentuk pengumpunanNya. Bahwa Allah SWT yang Maha menguasai langit dan bumi itu membuka pintu-pintu “pengampunan” dan “taubat” bagi semua hambaNya yang ingin dan sungguh-sungguh untuk meraihnya.
Al-Quran menegaskan: “dan bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya langit dan bumi, disiapkan bagi orang-orang yang bertakwah”. (Al-Imran).
Kecintaan Allah yang tiada batas itu terwujud dalam sebuah ayat yang saya sebut dengan “deklarasi pengampunan”: “Katakan, Wahai hamba-hambaKu (ibaadiya) jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.
Ayat ini menekankan beberapa poin penting:
Satu, bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya begitu sangat dalam, bahkan tiada batas. Allah memanggil mereka yang melakukan dosa dengan panggilan kasih: “wahai hamba-hambaKu”.
Padahal mereka telah melampaui batas dan ketetapan Allah (asrafuu). Luar biasanya Allah masih memanggil mereka dengan panggilan yang termulia “ibaad”.
Dua, mereka yang melakukan dosa disebut “asrafuu” atau melampaui batas dan berlebihan. Hal itu karena agama jika dijalankan sebagaimana mestinya akan sejalan dengan kebutuhan dan tabiat manusia.
Di saat agama tidak dijalankan sebagaimana mestinya maka terjadi prilaku “melampaui batas” dari tabiat (nature) kemanusiaan.
3. Pengampunan itu bukan sekedar karena usaha kita semata. Bukan pula karena sekedar ibadah yang kita lakukan. Tapi semuanya karena semata “rahmat Allah”. Dan yang terpenting bahwa Rahmat Allah tiada batas. Dan karenanya jangan pernah berputus Ada.
Artikel Terkait
Berkah Ramadhan, Gabungan Komunitas dan Yayasan Salurkan Bantuan Bagi Korban Gempa Cianjur
Memaknai Keberkahan Ramadan - 04
Pesona Pulau di Labuan Bajo, Bikin Cinta Indonesia
Intip Kesibukan Perempuan Cantik Siti Mufadlilah di Bulan Ramadhan
Golkar Hadiri Silaturahim Koalisi Perubahan, Sinyal Gabung?
Polres Cianjur Amankan 5 Remaja Pelaku Tawuran Sarung
Lagi-Lagi Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi, SPBU Agrabinta Kerap Jual Pertalite Puluhan Jerigen
Puteri Indonesia Sumatera Selatan 2023 Ajak Masyarakat Lestarikan Pariwisata dan Budaya
Polres Sukabumi Musnahkan Barang Bukti Hasil Operasi Pekat Lodaya 2023
Jalan Sinagar-Cipelah Pasir Kuda Segera Diperbaiki