Memaknai Keberkahan Ramadan - 05

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 27 Maret 2023 | 05:24 WIB
Memaknai Keberkahan Ramadan - 05 (net)
Memaknai Keberkahan Ramadan - 05 (net)

 
Oleh: Imam Shamsi Ali

Mungkin di antara keberkahan terpenting dari bulan Ramadan adalah rahmah dan magfirah Allah SWT. Bahwa bulan ini adalah bulan di mana Allah membuka pintu-pintu yang maha luar akan kasih sayang dan ampunanNya untuk hamba-hambaNya.

Sesungguhnya sisi sifat Allah yang paling dominan adalah rahmah atau kasih sayangNya. Hanya saja, sejak lama Islam disalah pahami seolah Islam kurang kasih sayang.

Konsep ketuhanan kerap kali ditampilkan sebagai Tuhan yang kasar, bengis, tiada belas kasih. Kebodohan bahkan kebohongan ini sengaja dipromosikan untuk menumbuhkan rasa takut, bahkan kebencian kepada Islam.

Padahal jika dikaji semua aspek ajaran agama ini, mulai dari konsep teologisnya, amalan ritual, hingga ke muamalahnya mengajarkan kasih sayang itu.

Ampunan Allah

Karakteristik Allah yang Maha “Rahman” dalam ajaran Islam, salah satunya terefleksi dalam bentuk pengumpunanNya. Bahwa Allah SWT yang Maha menguasai langit dan bumi itu membuka pintu-pintu “pengampunan” dan “taubat” bagi semua hambaNya yang ingin dan sungguh-sungguh untuk meraihnya.

Al-Quran menegaskan: “dan bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya langit dan bumi, disiapkan bagi orang-orang yang bertakwah”. (Al-Imran).

Kecintaan Allah yang tiada batas itu terwujud dalam sebuah ayat yang saya sebut dengan “deklarasi pengampunan”: “Katakan, Wahai hamba-hambaKu (ibaadiya) jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa-dosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.

Ayat ini menekankan beberapa poin penting:

Satu, bahwa kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya begitu sangat dalam, bahkan tiada batas. Allah memanggil mereka yang melakukan dosa dengan panggilan kasih: “wahai hamba-hambaKu”.

Padahal mereka telah melampaui batas dan ketetapan Allah (asrafuu). Luar biasanya Allah masih memanggil mereka dengan panggilan yang termulia “ibaad”.

Dua, mereka yang melakukan dosa disebut “asrafuu” atau melampaui batas dan berlebihan. Hal itu karena agama jika dijalankan sebagaimana mestinya akan sejalan dengan kebutuhan dan tabiat manusia.

Di saat agama tidak dijalankan sebagaimana mestinya maka terjadi prilaku “melampaui batas” dari tabiat (nature) kemanusiaan.

3. Pengampunan itu bukan sekedar karena usaha kita semata. Bukan pula karena sekedar ibadah yang kita lakukan. Tapi semuanya karena semata “rahmat Allah”. Dan yang terpenting bahwa Rahmat Allah tiada batas. Dan karenanya jangan pernah berputus Ada.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X