Sholat itu Mi’raj orang Beriman

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 22 Februari 2023 | 22:00 WIB
Sholat itu Mi’raj orang Beriman (Foto: kemenagtanahdatar)
Sholat itu Mi’raj orang Beriman (Foto: kemenagtanahdatar)


Oleh: Imam Shamsi Ali

Sholat bagi seorang Mukmin menjadi kata terpopuler dalam tatanan hukum agama. Sholat adalah perintah dan karenanya menjadi kewajiban atas setiap orang beriman. Sholat diyakini sebagai perintah “pertama” dan terpenting dalam tatanan ajaran agama Islam. Dan karenanya perintah sholat adalah perintah yang juga paling sering diulang-ulang dalam Al-Quran.

Urgensi Sholat juga terlihat pada “kaefiyat” (how) atau bagaimana Allah menetapkannya sebagai kewajiban. Bukan dengan proses alami seperti perintah lainnya. Tapi melalui proses extraordinary (luar biasa) dengan memperjalankan hambaNya di malam hari seraya mengangkatnya ke puncak ketinggian (Sidratul Muntaha). Di atas ketinggian itulah Allah menyampaikan perintah yang juga extraordinary (dahsyat) itu.

Baca Juga: Meldi Meldyana Putri, Mahasiswi Cantik Aktif Berorganisasi

Kedahsyatan sholat itu karena sholat merupakan penentu realita keislaman seorang Mukmin. Dan karenanya sholat menjadi “tiang” atau fondasi agama. Sholat juga menjadi pembatas antara keimanan/keislaman dan kekufuran/kemunafikan. Bahkan hingga pada akhirnya semua amalan hamba akan banyak ditentukan oleh sholatnya. Karena sholatlah yang pertama kali akan dihisab dan menentukan diterima atau ditolaknya amalan hamba di hari Kiamat kelak.

Sesungguhnya Urgensi sholat juga terkait langsung dengan kehidupan seorang Mukmin. Sholat yang berarti “komunikasi, hubungan, koneksi” dan yang semakna itu memang menjadi jalan pintas dalam membangun relasi dan komunikasi dengan Pencipta. Dengan sholat seorang Mukmin secara konstan terhubungkan dengan Dia yang memilki alam semesta dan segala isinya.

Esensi hubungan itu ada pada komunikasi. Komunikasi itu tentu esensinya ada “mengingat”. Kata mengingat atau “dzikir” inilah yang menjadi esensi dasar dari solat yang tersimpulkan dalam ayat Al-Quran: “dirikanlah sholat untuk mengingat Aku”.

Maka sholat itu esensinya pada mengingat Allah yang dengannya seorang Mukmin melakukan perjalanan vertikal spiritual (mi’raj) untuk bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan sang Pencipta langit dan bumi.

Baca Juga: SMRC: Partai dan Politisi Berebut Ingin Jadi NU

Di momen bermi’raj itulah seorang Mukmin menyampaikan segala isi hati dan pikiran. Mengosongkan diri (takhalli) dengan segala daya (khusyu’) menuju kepada pertemuan batin (tajalli) dengan Rabbnya.

Di saat batin terkoneksi dengan Allah dalam ingatan yang kokoh, di saat itulah seorang Mukmin akan merasakan kebahagiaan dan keindahan hidup tiada tara. Itulah hakikat “dengan dzikrullah hati menjadi tenang”. Bahkan Rasulullah pun meminta kepada Bilal: “arihna ya Bilal” (wahai bilal jadilah wasilah ketenangan) dengan panggilan sholat (azan).

Dengan semua itu masihkah kita lalai dan tak peduli dengan sholat? Semoga tidak!

Baca Juga: Anggota TNI Luka Parah Dihajar Gerombolan Ormas

NYC Subway, 22 Februari 2023

Presiden Nusantara Foundation

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X