Padahal Pasal 31 UUD 1945 secara tegas menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan. Kalimatnya sederhana, tetapi maknanya seharusnya panjang. Artinya, pendidikan bukan hanya tentang melahirkan segelintir siswa terbaik untuk dipamerkan dalam statistik pembangunan. Pendidikan adalah tentang memastikan seluruh anak bangsa memperoleh kesempatan yang sama untuk bermimpi.
Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan dapat menjadi alat pembebasan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial. Ketika akses terhadap pendidikan berkualitas hanya terkonsentrasi pada institusi tertentu, maka sekolah perlahan berubah menjadi simbol kelas sosial. Pendidikan tidak lagi menjadi jembatan harapan, tetapi penanda siapa yang dianggap unggul dan siapa yang dibiarkan tertinggal.
Kritik serupa disampaikan Jerry Z. Muller dalam bukunya The Tyranny of Metrics. Muller mengingatkan bahwa institusi modern sering terlalu sibuk mengejar angka, ranking, dan simbol keberhasilan. Pendidikan akhirnya lebih fokus pada citra global dan statistik prestasi, tetapi melupakan manusia sebagai inti dari seluruh proses pendidikan itu sendiri.
Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan nasional tidak cukup dihitung dari berapa banyak siswa diterima di Harvard atau Oxford. Ukuran yang lebih penting adalah apakah anak-anak di daerah juga bisa belajar dengan tenang tanpa takut atap kelas roboh saat hujan deras datang. Sebab pendidikan yang sehat tidak hanya melahirkan siswa hebat, tetapi juga menghadirkan rasa adil bagi seluruh warga negara.
Negara tentu boleh membangun sekolah unggulan. Namun orientasi pendidikan tidak boleh berhenti pada proyek mercusuar yang tampak indah di layar presentasi. Sekolah unggulan seharusnya menjadi pusat kolaborasi, bukan pusat eksklusivitas. Sekolah Garuda mestinya diwajibkan membina sekolah-sekolah sekitar agar manfaatnya tidak berhenti pada segelintir siswa terpilih saja.
Bangsa besar tidak dibangun hanya oleh sedikit sekolah hebat. Bangsa besar dibangun ketika anak-anak di pelosok juga merasa memiliki masa depan yang sama. Pendidikan yang sehat seharusnya tidak membuat seorang anak merasa kalah hanya karena ia lahir jauh dari sekolah unggulan negara. Sebab sekolah semestinya menjadi ruang harapan, bukan penanda kasta sosial baru.
Artikel Terkait
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Membaca Tanda Kemabruran Haji (Bagian 43)
Grand Final Miss Bintang Indonesia 2025 Sukses Digelar, Hadirkan Perempuan Inspiratif dari Seluruh Nusantara
Nasyfa Hafaa Wibowo, Duta Pariwisata Remaja Indonesia yang Siap Bersinar di Mojang Jajaka Kabupaten Bogor 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Polres Cianjur Gelar Panen Jagung Hibrida di Desa Jamali
Mutiara Pagi: Belajar dari Semesta (Bagian 2239)
Putri Sabila, Model Asal Jabar yang Siap Bersinar di Miss Bintang Indonesia 2026
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Bojongpicung Cianjur Tanam Jagung Hibrida di Lahan Dua Hektar
Operasi Pajak Kendaraan di Cianjur Jaring Ratusan Kendaraan dan Dongkrak Pendapatan Daerah
Pemkab Cianjur Wajibkan Ijazah Pendidikan Keagamaan untuk Syarat Masuk SMP