Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, sungguh berbahagia saya diundang berbagi pikiran tentang politik pendidikan dalam puncak Hari Bakti Perguruan Taman Siswa tahun 2006.
Kaitan antara politik (perjuangan) kemerdekaan dan pendidikan belajar merdeka merupakan dasar ontologis Perguruan ini.
Sebelum Soewardi mendirikan Taman Siswa, pada 1921 ia bergabung terlebih dahulu dengan kelompok diskusi para politisi bangsawan dan rohaniawan: Paguyuban Selasa Kliwon.
Paguyuban yang dibentuk atas saran dua pangeran, Ki Ageng Suryomataram dan R.M. Sutatmo Suryokusumo, ini mengajak para pemimpin politik dan spiritual yang “berjiwa revolusioner” untuk membahas reorientasi cita-cita politik sesuai dengan kepribadian bangsa.
Sedini tahun 1919, paguyuban ini telah mendiskusikan demokrasi seperti apa yang pantas dijalankan. Mewakili pandangan paguyuban ini, Sutatmo menolak gagasan demokrasi Barat yang menekankan suara terbanyak.
Menurutnya, dalam demokrasi Barat suara mayoritas yang menentukan apa yang benar, bukan ketentuan “kebaikan” dan “keadilan”. Ia menegaskan pendiriannya dalam majalah Weder-Opbuow: “Keindahan yang membatasi kekuasaan/Kekuasaan yang memuja cinta kasih/Kebijaksanaan yang membawa keadilan.”
Sutatmo juga menekankan pentingnya pelaksanaan demokrasi yang bersifat kekeluargaan di bawah kepemimpinan arif-bijaksana: bahwa “orang-orang yang bijak hendaknya menjadi pemimpin negara dan harus dipilih oleh orang-orang bijak pula”.
Dan, pemimpin bijaksana ini hendaknya bertanggung jawab kepada orang dalam kerangka garis lingkaran yang konsentris: manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial punya kewajiban kepada individu lain, negara dan kemanusiaan secara umum.
Pemahaman itu tertuang dalam semboyan paguyuban: “mangaju-aju salira, mangaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa” (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan manusia).
Dari serangkaian diskusi, muncullah kesepakatan perlunya menumbuhkan semangat kemerdekaan dalam jiwa anak-anak muda melalui sistem pendidikan yang benar-benar “nasional” secara kebudayaan dan pendidikan. Lahirlah Perguruan Taman Siswa (1922) sebagai wahana belajar menjadi manusia merdeka.
Artikel Terkait
KBIHU Annur Cimahi Matangkan Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji Kloter 22 KJT
Jadwal Lengkap Final Kompetisi Antarklub AFC 2025/2026, Dominasi Tim Arab Saudi di Kasta Tertinggi
OCBC Syariah dan Rumah Zakat Salurkan Kafalah untuk Guru Ngaji di TPQ Auladul Mustopa
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Memaknai Panas Dunia sebagai Pengingat Siksa Neraka (Bagian 36)
Pererat Silaturahmi, Warga RT 002 Perum Pepabri Gunteng Gelar Halalbihalal
Memasuki Usia 92 Tahun GP Ansor Tekankan Redefinisi Gerakan Hadapi Tantangan Global
Mutiara Pagi: Penyangga Kebahagian (Bagian 2190)
Partisipasi Tes Kemampuan Akademik SMP di Cianjur Tembus 94 Persen Meski Terkendala Masalah Teknis
Pererat Sinergi Antarlembaga, KONI Cianjur Gelar Turnamen Minisoccer Rekreatif
Menjaga Eksistensi dan Menguatkan Jamiyyah Nahdlatul Ulama dalam Menyongsong Abad Kedua