Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Meraih Lailatul Qadar (Bagian 30)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 13 Maret 2026 | 14:41 WIB
Meraih Lailatul Qadar
Meraih Lailatul Qadar

JOURNALNUSANTARA.COM - Lailatul Qadar adalah anugerah terbesar dalam bulan Ramadan yang dinantikan oleh setiap mukmin yang merindu rida Allah SWT.

Malam ini digambarkan lebih baik daripada seribu bulan, sebuah dimensi waktu di mana pintu pintu langit terbuka lebar dan para malaikat turun membawa kedamaian hingga terbit fajar.

Meraih malam kemuliaan ini bukanlah perkara keberuntungan semata, melainkan buah dari kesungguhan dan persiapan batin yang matang sejak awal bulan suci.

Kehadirannya menjadi ujian sekaligus hadiah bagi mereka yang istiqamah dalam menjaga kesucian diri dan konsistensi ibadahnya.

Hikmah di balik dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar adalah agar manusia senantiasa konsisten dalam beribadah tanpa memilih-milih hari.

Semangat untuk berburu malam ini biasanya memuncak pada sepuluh malam terakhir, terutama pada tanggal-tanggal ganjil.

Namun, seorang hamba yang bijak akan memperlakukan setiap malam Ramadan sebagai peluang emas. Persiapan dimulai dengan membersihkan hati dari penyakit batin seperti iri, dengki, dan kesombongan.

Tanpa hati yang bersih, cahaya kemuliaan sulit untuk meresap ke dalam jiwa yang masih terbelenggu oleh urusan duniawi yang berlebihan.

Selama sepuluh malam terakhir, Rasulullah mengajarkan kita untuk meningkatkan intensitas ibadah dan menjauhkan diri dari kesibukan yang tidak perlu.

Ibadah yang dilakukan bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan dialog mendalam antara hamba dan Sang Pencipta.

Memperbanyak salat malam, tadarus Al-Quran dengan tadabur, serta memperlama sujud adalah jalan menuju perjumpaan dengan kemuliaan.

Doa yang paling utama adalah memohon ampunan, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai pengampunan, maka ampunilah aku.

Sejatinya, tanda keberhasilan meraih Lailatul Qadar tidak selalu berupa fenomena alam yang luar biasa, melainkan adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik setelah Ramadan usai.

Jika seseorang menjadi lebih dermawan, lebih sabar, dan lebih dekat dengan ketaatan, maka ia telah memetik esensi dari malam seribu bulan tersebut.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X