Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, sudah lama tak bisa kutulis puisi. Jantung hati tak lagi berdenyut. Darah kata tak lagi mengalir.
Tatkala kata-kata indah terasa hampa di tengah keriuhan viralitas dan gurita kesewenangan, daya kata kehilangan tuahnya.
Gerak hidup dijalani dengan mati rasa. Hilang percaya membuat lenyap asa. Hilang arah membuat limbung langkah. Hilang cinta membuat lemah karsa. Hilang karsa membuat beku cipta.
Mencoba bangkit dari kematian. Namun, belum tuntas kutuliskan satu bait, matahari sudah di titik zenit.
Kata-kata tak mudah lagi mengalir dari hulu sungai syarafku. Pembuluh darah kata tersumbat di sekujur tubuh.
Banyak yang tak sanggup lagi kupirkan, karena kian banyak hal berjalan di luar nalar. Pikiran yang menggenang lama-lama membeku, sulit mencair jadi tetesan kata.
Jadilah aku terus berjalan dalam kematian. Karena menulis aku ada, kehilangan kemampuan menulis adalah kematian sebelum mati. Sungguh miris.
Dalam demokrasi yang mestinya dirayakan dengan kebebasan berfikir dan kemampuan artikulasi, yang kutemukan justru kuburan massal daya cipta, rasa dan karsa.
Artikel Terkait
3 Puteri Indonesia Bakal Ramaikan Acara Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim di Cadasngampar
Mutiara Pagi: Seekor Semut (Bagian 2146)
Palestina Dukung Kemerdekaan Indonesia?
Aksi Sosial Bagong Mogok di Mande Jadi Inspirasi Pengusaha untuk Peduli Sesama
Resmi Dilantik, PC PMII Cianjur Siap Perkuat Kaderisasi dan Gerakan Sosial
Serunya Eco Green Pesantren di SMKN 2 Cilaku, Cara Kawan Ukhuwah Ajak Pelajar Cintai Lingkungan
Strategi Tetap Bugar Salat Tarawih Meski Makan Kenyang
IPNU IPPNU Cianjur dan Majlis Alumni Gelar Buka Bersama Pererat Silaturahmi Kader
Mutiara Pagi: Hakikat Diri (Bagian 2147)
Catat Jadwal Lengkap Pemilihan Putra Putri Bahari Jawa Barat 2026