Geothermal di Kaki Gunung Gede

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Selasa, 20 Januari 2026 | 13:03 WIB
Unang Margana
Unang Margana

“Antara kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan.

Oleh : Unang Margana*

Wacana pengembangan energi panas bumi (Geothermal) di kaki Gunung Gede Pangrango kembali memantik perdebatan di masyarakat. Di satu sisi, Indonesia membutuhkan sumber energi bersih dan berkelanjutan untuk menjawab tantangan krisis iklim dan meningkatnya kebutuhan listrik. Di sisi lain, Gunung Gede Pangrango merupakan kawasan dengan nilai ekologis, sosial, dan budaya yang sangat tinggi karena berada dalam wilayah taman nasional serta menjadi daerah tangkapan air bagi jutaan penduduk di sekitarnya. Pertanyaan mendasarnya bukan semata apakah geothermal baik atau buruk, melainkan apakah pengembangannya di kawasan sensitif ini dapat dilakukan tanpa mengorbankan kelestarian alam dan hak masyarakat lokal.

Gunung Gede Pangrango merupakan kawasan strategis sekaligus sensitif. Selain memiliki potensi panas bumi yang besar, wilayah ini juga merupakan Taman Nasional yang berfungsi sebagai kawasan konservasi, sumber air, dan ruang hidup masyarakat sekitar. Kawasan Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki banyak potensi penting, baik dari sisi alam, ekonomi, pendidikan, diantaranya sebagai berikut : 1).Potensi Keanekaragaman Hayati ; Merupakan salah satu pusat biodiversitas di Pulau Jawa. Habitat berbagai flora endemik seperti edelweiss jawa dan kantong semar. Fauna langka: macan tutul jawa, owa jawa, elang jawa, surili. Ekosistem lengkap dari hutan hujan tropis hingga subalpin. 2).Potensi Sumber Daya Air ; Daerah tangkapan air (catchment area) penting Menyediakan air bagi masyarakat di Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Banyak mata air, sungai, dan air terjun (Curug Cibeureum, Curug Cikundul). 3).Potensi Geologi dan Vulkanologi ; Gunung Gede dan Pangrango adalah gunung api (Gede masih aktif). Potensi untuk penelitian kebumian, mitigasi bencana, dan edukasi vulkanologi. Terdapat kawah, fumarol, dan fenomena geologi unik. 4). Potensi Wisata Alam (Ekowisata) ; Pendakian gunung, camping, dan trekking Objek wisata alam: Telaga Biru, Alun-Alun Suryakencana, air terjun. Wisata edukasi dan wisata minat khusus (birdwatching, fotografi alam). 5).Potensi Pendidikan dan Penelitian ; Lokasi penelitian biologi, kehutanan, lingkungan, dan geografi. Sering digunakan oleh pelajar, mahasiswa, dan peneliti
Laboratorium alam untuk studi konservasi dan perubahan iklim. 6).Potensi Konservasi Lingkungan ; Berperan menjaga keseimbangan ekosistem Jawa Barat. Kawasan taman nasional untuk pelestarian flora dan fauna. Mendukung upaya mitigasi perubahan iklim (penyerap karbon), dan 7).Potensi Sosial dan Ekonomi Masyarakat ; Membuka lapangan kerja (pemandu wisata, porter, pengelola homestay). Pengembangan ekonomi lokal berbasis wisata berkelanjutan. Edukasi masyarakat tentang pelestarian alam.

Menurut sejumlah artikel ilmiah, energi panas bumi dikategorikan sebagai energi terbarukan karena memanfaatkan panas bumi yang terus terisi secara alami dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang sangat rendah (misalnya <5% dibanding pembangkit batu bara), sehingga lebih ramah lingkungan daripada energi fosil. (lihat: Geothermal energy: A sustainable and cost-effective … 2025; Indonesian Geothermal Energy 2024; Economic growth and environmental impact 2024; Frontiers in Built Environment 2025).
Beberapa manfaat Geothermal, sebagai berikut ; Pertama, geothermal termasuk energi terbarukan dan ramah lingkungan. Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan batu bara atau minyak bumi. Hal ini menjadikan geothermal berperan penting dalam upaya mengurangi perubahan iklim. Kedua, energi ini stabil dan andal. Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang bergantung pada cuaca, geothermal dapat menghasilkan listrik selama 24 jam nonstop. Ini membuatnya cocok sebagai sumber energi dasar (base load). Ketiga, bagi negara seperti Indonesia, geothermal adalah sumber daya lokal. Pemanfaatannya dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil serta membuka lapangan kerja di daerah sekitar proyek.

Meski tergolong energi bersih, geothermal bukan tanpa dampak. Salah satu masalah utama adalah gangguan terhadap lingkungan lokal. Pembangunan pembangkit sering dilakukan di kawasan pegunungan atau hutan, yang berpotensi merusak ekosistem jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu, ada risiko pencemaran air dan tanah akibat keluarnya zat kimia seperti sulfur atau logam berat dari dalam bumi. Jika pengelolaannya buruk, hal ini bisa berdampak pada kesehatan masyarakat sekitar. Dari sisi sosial, proyek geothermal kadang menimbulkan konflik dengan masyarakat lokal, terutama jika lokasi berada di wilayah adat atau kawasan yang dianggap sakral. Kurangnya komunikasi dan pelibatan aktif masyarakat dapat memperbesar penolakan.

Pro dan Kontra

Rencana pembangunan Proyek Gheothermal dikawasan Gunung Gede dan Pangrango menimbulkan pro dan kontra, dimasyarakat, argumentasi yang mendukung (pro) alasannya adalah, Pertama, Sumber energi bersih dan terbarukan ; Geothermal menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan energi fosil. Pemanfaatannya dinilai sejalan dengan upaya mengurangi perubahan iklim dan krisis energi. Kedua, Potensi energi besar dan stabil ; Aktivitas vulkanik Gunung Gede Pangrango menyimpan panas bumi yang dapat menghasilkan listrik secara terus-menerus, tidak tergantung cuaca seperti energi surya atau angin. Ketiga ; Mendorong ketahanan energi nasional ; Pengembangan geothermal dapat mengurangi ketergantungan pada batu bara dan impor bahan bakar minyak, sekaligus memanfaatkan sumber daya alam dalam negeri. Keempat, Manfaat ekonomi local ; Proyek geothermal berpotensi membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, serta mendorong pembangunan infrastruktur di wilayah sekitar. Kelompok yang mendukung pengembangan geothermal berangkat dari urgensi transisi energi. Panas bumi dipandang sebagai salah satu sumber energi terbarukan paling andal karena mampu menghasilkan listrik secara stabil selama 24 jam, tidak bergantung pada cuaca seperti tenaga surya dan tenaga angin.
Dengan potensi panas bumi yang besar, kawasan sekitar Gunung Gede Pangrango dinilai strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada batu bara serta bahan bakar fosil impor. Selain itu, geothermal sering disebut lebih ramah lingkungan karena emisi karbonnya relatif rendah. Pendukung proyek berargumen bahwa pemanfaatan teknologi modern, standar keselamatan yang ketat, serta analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang komprehensif dapat meminimalkan risiko kerusakan. Dari sisi ekonomi, proyek geothermal juga menjanjikan manfaat nyata bagi daerah, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan asli daerah, dan pembangunan infrastruktur penunjang.

Adapun argumentasi dari yang menolak (kontra), sbb : Pertama, Ancaman terhadap kawasan konservasi ; Gunung Gede Pangrango adalah taman nasional dengan keanekaragaman hayati tinggi. Aktivitas pengeboran, pembangunan jalan, dan fasilitas industri dikhawatirkan merusak ekosistem flora dan fauna. Kedua, Risiko terhadap sumber air ; Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air penting bagi masyarakat di sekitarnya. Pengeboran geothermal berpotensi mengganggu kualitas dan kuantitas air tanah. Ketiga, Dampak sosial dan budaya ; Masyarakat sekitar, termasuk komunitas adat, sering menganggap gunung sebagai kawasan sakral. Kurangnya pelibatan masyarakat dapat memicu konflik dan penolakan sosial. Keempat ; Risiko bencana dan gangguan lingkungan ; Walaupun relatif kecil, aktivitas geothermal tetap memiliki risiko seperti pelepasan gas beracun (misalnya H₂S), gempa kecil (mikroseismik), dan kebisingan yang mengganggu kehidupan sekitar. Penolakan terhadap geothermal di kaki Gunung Gede Pangrango juga memiliki dasar yang kuat. Kawasan ini merupakan habitat penting bagi berbagai flora dan fauna endemik. Aktivitas pengeboran, pembukaan jalan, serta pembangunan fasilitas industri dikhawatirkan akan memecah habitat alami dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Bagi para pemerhati lingkungan, risiko ini terlalu besar untuk kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi secara ketat. Isu lain yang sering diangkat adalah potensi gangguan terhadap sumber air. Gunung Gede Pangrango dikenal sebagai daerah resapan air yang memasok kebutuhan air bersih bagi masyarakat di wilayah Cianjur, Sukabumi, dan sekitarnya. Kekhawatiran muncul bahwa aktivitas geothermal dapat memengaruhi kualitas maupun debit air tanah. Di samping itu, terdapat risiko sosial-budaya, terutama jika proyek dilakukan tanpa persetujuan dan pelibatan masyarakat lokal. Bagi sebagian warga, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup dan simbol spiritual yang memiliki nilai sakral.

Penutup

Perdebatan geothermal di kaki Gunung Gede Pangrango menunjukkan benturan antara kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan. Energi panas bumi memang menawarkan solusi energi bersih, tetapi penerapannya di kawasan sensitif harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi, kajian lingkungan yang ketat, serta pelibatan masyarakat secara terbuka. Keputusan terbaik bukan hanya soal “setuju atau tidak”, melainkan bagaimana memastikan bahwa pembangunan tidak mengorbankan kelestarian alam dan kehidupan sosial di sekitarnya.

Perdebatan dipublik menunjukkan bahwa isu geothermal tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Kebutuhan energi bersih adalah keniscayaan, tetapi perlindungan kawasan konservasi juga merupakan amanat yang tidak kalah penting. Tantangannya terletak pada tata kelola. Transparansi dalam perencanaan, keterbukaan data lingkungan, serta partisipasi bermakna masyarakat harus menjadi prasyarat utama sebelum proyek apa pun dijalankan. Tanpa itu, geothermal berpotensi menjadi sumber konflik berkepanjangan.

Adanya Pro dan kontra geothermal di kaki Gunung Gede Pangrango mencerminkan dilema pembangunan yang dihadapi Indonesia saat ini: antara mengejar kebutuhan energi dan menjaga kelestarian alam. Energi panas bumi menawarkan peluang besar bagi masa depan yang lebih bersih, tetapi penerapannya di kawasan sensitif menuntut kehati-hatian ekstra. Keputusan akhir seharusnya tidak hanya berpijak pada hitung-hitungan ekonomi dan pasokan listrik, melainkan juga pada keberlanjutan ekologis dan keadilan sosial.

Jika negara ingin menjadikan geothermal sebagai solusi, maka perlindungan lingkungan dan suara masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap kebijakan.
Geothermal pada dasarnya adalah peluang besar bagi transisi energi bersih, khususnya di Indonesia. Namun, manfaatnya hanya akan terasa maksimal jika dibarengi dengan perencanaan matang, teknologi yang aman, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat. Energi panas bumi bukan solusi sempurna, tetapi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab, mudaratnya dapat ditekan dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X