Oleh: Ronaz
Menanggapi pertemuan daring darurat APDII dan Fordakom pada 19 Januari 2026 tentang rencana Dirjen Diktis melakukan perubahan penempatan prodi pada fakultas-fakultas dan gelar rumpun ilmu agama Islam. Salah satu yang terdampak adalah Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) yang rencananya akan dipindahkan ke Fakultas Adab dan Humaniora dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Secara epistemologis, nampaknya perlu semua pihak yang berkepentingan memahami Body of Knowledge (BoK) masing-masing ilmu sehingga mampu tertib dan disiplin dalam pengambilan keputusan. Dalam konteks ini, kedaulatan ilmu harus dihargai, bebas dari kepentingan dan intervensi birokrasi.
Sejak berdiri, Prodi PMI merupakan transformasi dari konsep tamkinuddu’at, salah satu cabang dari ilmu dakwah sehingga muncul konsepsi at-tamkin al-da'wah. Tamkin memiliki padanan dengan kata empowerment atau pemberdayaan, sementara da'awat merupakan jamak dari kata da’wah yang berarti ragam upaya mengajak, menyeru, memohon, atau memanggil.
Secara metodologis, tamkin terdiri dari proses tahapan takwin, tandzim, taqwim, dan tawdhi'. Takwin diistinbath dari kata kana-yakunu-kaunan-kun (fi'il amar). Terdapat perintah dakwah dalam Al-Qur'an mulai dari tahap takwin dengan kalimat kuntum yang artinya "jadilah kalian semua". Firman Allah Swt:
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Surat Ali 'Imran: 104]
Pada ayat lain Allah Swt berfirman:
كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ lِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." [Surat Ali 'Imran: 110].
Takwin merupakan proses development atau pembentukan awal dengan menanamkan nilai-nilai keimanan atau kepercayaan melalui refleksi sosial dan internalisasi. Takwin mensyaratkan nilai kebaikan yang terpilih (khair) yaitu Islam. Maka proses refleksi dan internalisasi juga menyarankan taslim atau kepasrahan untuk menunjukkan kejujuran atas realitas yang dihadapi untuk selanjutnya membangun harapan dan impian (dream).
Refleksi dan internalisasi membangun impian perlu dipelihara dengan kontinuitas serta memperbaharui impian dan harapan. Konsep takwin juga dijawab dengan kata fayakun, bentuk kata kerja continuous (fi'il mudhori) sebagaimana firman Allah Swt:
بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah sesuatu itu.” [Surat Al-Baqarah: 117]
Artikel Terkait
Peduli Kesehatan Mental Melalui Perawatan Kulit, Nes Skin Dermatology & Aesthetics Hadir di Depok
Bersama Coach Afiq, Nutrition of PIL Gelar Talk Show Festival TRING Pegadaian Area Bogor
Mutiara Pagi: Cermin (Bagian 2093)
Prakiraan Cuaca Cianjur Hari Ini, Waspada Hujan Ringan Merata di Seluruh Wilayah
Mutiara Pagi: Kita Serupa Ludruk (Bagian 2094)
Ajo Motor Gelar "Kids Competition" di Sukra Wetan, Wadah Kreativitas Anak Melalui Mewarnai hingga Menari
Pentingnya Standar Keselamatan Penerbangan Komersial
Gelar PHJB Day Camp di Bandung, Putri Hijabfluencer Jawa Barat Ajak Muslimah Upgrade Diri
LBH GP Ansor Jabar Soroti Kasus Kuota Haji: Kebijakan Jangan Dikriminalisasi
Mutiara Pagi: Dongeng (Bagian 2095)