Demokratisasi Pemilihan Rektor, Memperkuat Legitimasi Kampus melalui E-Voting dan Partisipasi Daring

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 5 Oktober 2025 | 10:11 WIB
Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag  (Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN SGD Bandung)
Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag (Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN SGD Bandung)

Oleh: Dr. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag

(Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN SGD Bandung)

Dalam proses pemilihan rektor di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), peran utama selama ini dipegang oleh senat universitas dan kementerian terkait Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, atau Kementerian Agama.

Kedua pihak ini memiliki otoritas formal dalam proses seleksi dan penetapan. Namun, untuk mewujudkan semangat demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas, perlu dilakukan penguatan mekanisme partisipasi dari seluruh unsur civitas akademika, terutama dosen dan tenaga kependidikan (tendik).

Penerapan E-Voting sebagai Simbol Demokrasi Kampus

Salah satu langkah strategis untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menerapkan sistem e-voting dalam proses pemilihan rektor. E-voting akan memberikan ruang bagi dosen dan tendik untuk terlibat secara langsung dalam memilih figur pemimpin kampus.

Sistem ini tidak hanya efisien dan modern, tetapi juga mencerminkan prinsip keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan partisipasi aktif. Lebih dari sekadar teknis, e-voting menjadi simbol bahwa kampus adalah laboratorium demokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan integritas.

Penerapan e-voting juga merupakan upaya preventif terhadap praktik-praktik tidak etis dalam pemilihan rektor, seperti transaksi jabatan, kolusi, nepotisme, atau lobi-lobi politis yang manipulatif. Ketika suara civitas akademika menjadi bagian esensial dari proses, maka legitimasi seorang rektor tidak hanya berasal dari struktur formal, tetapi juga dari dukungan moral dan politik akademik internal kampus.

Alternatif Partisipasi Daring (Online)

Apabila penerapan e-voting secara menyeluruh menghadapi kendala regulasi, teknis, atau infrastruktur, maka kementerian terkait perlu membuka akses resmi secara daring (online) sebagai media partisipasi dan penyampaian aspirasi dari dosen dan tendik.

Melalui media online yang kredibel dan terverifikasi, seluruh elemen kampus dapat memberikan masukan terhadap figur-figur calon rektor yang telah diajukan oleh senat universitas.

Media daring ini akan menjadi kanal komunikasi yang sehat antara civitas akademika dan kementerian, serta memperkaya proses penilaian terhadap integritas, kapasitas, dan rekam jejak calon-calon rektor.

Dengan demikian, kementerian tidak hanya mengandalkan pertimbangan administratif, tetapi juga memperoleh informasi langsung dari akar rumput kampus, menjadikannya bentuk bottom-up governance dalam ekosistem pendidikan tinggi.

Penguatan Legitimasi Moral

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X