Dengarkan Suara Rakyat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 3 September 2025 | 15:23 WIB
Nia Rohania
Nia Rohania

Oleh : Nia Rohania*

Turut prihatin dan berdukacita atas kondisi Indonesia saat ini. Rasa sedih, kecewa, dan sekaligus bangga pada mereka yang berani turun ke lapangan, menjadi wakil dari jutaan rakyat Indonesia untuk menyampaikan aspirasi yang tentu saja selalu berupa keluhan, kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap kinerja para wakil rakyat yang duduk di parlemen dan terhadap kebijakan kebijakan yang diambil pemerintah terhadap kesejahteraan para anggota Parlemen yg dinilai melebihi batas kewajaran, berbagai tunjangan yg diberikan yang berpuluh kali lipat melebihi kesejahteraan yg didapat oleh Rakyat nya sendiri yang telah memilih mereka untuk duduk di kursi empuk, dengan berpakaian Jas yang mentereng dengan berbagai fasilitas yang mewah serta berbagai kesempatan yg istimewa Pemandangan yang bukan hal baru bagi kita masyarakat Indonesia. Demonstrasi menjadi hal yang lumrah dan menjadi satu-satunya wadah dan alat yg bisa menampung suara rakyat untuk disampaikan ke pemangku kekuasaan, menyampaikan kekecewaan yang sudah bukan sekali dua kali, tapi sering kali, yg kemudian menumpuk dan menjadi boom waktu yg setiap saat bisa meledak, yang kemudian dianggap sebagai cara yg paling efektif agar suara kita didengar dan tuntutan kita dikabulkan, dan berharap pemerintah bisa intropeksi dan mengubah diri agar bisa menjadi sesuai dengan yg rakyat harapkan. Tapi sayang , Parlemen dan Pemerintah selalu tidak peka, mungkin karena sebagian nurani dari anggota mereka sudah beku, tak bisa tersentuh oleh rasa simpati dan empati terhadap masyarakat, sehingga mereka selalu menganggap enteng dan tidak peduli terhadap keresahan dan kerisauan yang timbul dikalangan masyarakat, bahwa aksi mereka bisa menimbulkan reaksi massa. Bukannya menyambut dengan baik setiap kritikan dan kehadiran mereka, tapi malah menunjukkan prilaku yg menyepelekan dan kata kata yg menghinakan, sehingga menimbulkan sakit hati dan luka yang mendalam, akibatnya masyarakat tak lagi mampu meredam emosi dan terlihat seolah tak dapat mengontrol diri.

Sungguh sangat disayangkan, kelakuan segelintir Anggota DPR RI telah mencoreng Indonesia di tingkat dunia. Memantik api , membakar rasa. Kehadiran massa lewat demonstrasi bukan direspon positif, tetapi malah ditertawai dan di ludahi, sehingga massa menjadi anarkis, akibatnya tragedi kembali terjadi dan rakyat selalu menjadi korban.
Affan, tukang ojek yang dilindas mobil Brimob di jakarta, Abay bersama temannya Sarinawati, staf DPRD menjadi korban kemarahan massa yg membakar gedung DPRD Makassar, tanpa sadar masih ada manusia yg terjebak dalam kobaran api. Penjarahan ke rumah beberapa anggota DPR RI, membuat hati kita begitu miris, dan sekecewa itukah rakyat terhadap wakil rakyat???

Di bulan Agustus ini, Indonesia menunjukkan pemandangan yg sangat mengerikan dan mencekam. Membuat kita flash back ke masa-masa mencekam dulu, masa reformasi, masa krisis ekonomi, masa pemilihan presiden Jokowi , yang semua menjadi catatan sejarah dan tragedi berdarah di Indonesia. Demokrasi bukan lagi sekedar bebas berpendapat tapi demokrasi sudah menjadi aksi bebas yang anarkis.

Dengan kondisi seperti ini , akankah kita terus berdiam dan Pemerintah Indonesia tidak mau mengubah diri ?

Saatnya dengarkan suara rakyat

30 Agustus Gravenpolder , Netherlands,

*Ketua P3AD Cianjur, Lawyer, dan mahasiswa magister ilmu hukum UAI Jakarta

Artikel Selanjutnya

Mengapa Amuk Massa?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X