3. Berikan ruang debat atau forum opini di kelas.
4. Dorong siswa untuk menulis opini atau membuat konten digital tentang isu kebangsaan.
Pendidikan Kewarganegaraan tidak boleh hanya mengajarkan “apa itu demokrasi”, tapi juga melatih bagaimana menjadi warga negara yang demokratis. Termasuk di dalamnya: berani berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan menghormati pandangan berbeda.
Di era ini, DIAM BUKAN LAGI EMAS. Justru keberanian untuk berbicara adalah wujud nyata dari tanggung jawab sebagai warga Negara.
Artikel opini di buat untuk sebagian syarat dari memenuhi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan dosen pengampu: Mawardi Nurullah S.Pd. M.Pd.
Adisty Dzakia Muhni, Mahasiswa Sarjana Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang.
Artikel Terkait
RS Edelweiss Cianjur Gelar Fun Run Meriah, Rayakan Hari Jadi Pertama Bersama Komunitas Pelari
Merajut Keimanan dan Membangun Kemaslahatan
Berbeda Satu Cinta
Rekonfirmasi dan Penegasan Thariqah sebagai Warisan Walisongo
Mutiara Pagi: Khawarij Gaya Baru (Bagian 1883)
Jejak Langkah Sang Raja Agung: Prabu Siliwangi
Keluarga Harmonis, Pondasi Kebahagiaan Sejati
Membentuk Anak Saleh, Investasi Dunia Akhirat
Masa Tua, Merayakan Hikmah dan Ketenangan
Sejauh Mana PKn Menjawab Tantangan Karakter di Era yang Berubah Cepat?