Oleh: MJ. Wijaya
Di tengah masyarakat modern yang puritan dan cenderung represif terhadap narasi seksual, Jawa klasik justru menyuguhkan pandangan yang lebih subtil, metaforis, dan bahkan mistis mengenai tubuh dan birahi.
Dua entitas kultural yang jarang diangkat ke permukaan publik gowok dan apa yang populer disebut sebagai “Kamasutra Jawa” adalah contoh bagaimana masyarakat Jawa kuno tidak memisahkan antara seksualitas, spiritualitas, dan estetika kehidupan.
Gowok: Sekolah Tubuh dan Jiwa
Tradisi gowok berasal dari wilayah Surakarta dan sekitarnya, di mana para pria muda bangsawan kerap “dititipkan” kepada seorang guru berpengalaman yang disebut gowok.
Sosok gowok bisa jadi pria tua, bisa pula seorang waria, yang tidak hanya mengajarkan etika sosial, kesenian, dan tata krama, tetapi juga seni bercinta. Ini bukan prostitusi terselubung, melainkan pendidikan erotik yang dikemas dalam struktur kebudayaan.
Gowok tidak semata melatih stamina biologis, tetapi juga kehalusan rasa—bagaimana menyentuh dengan kelembutan, membangun relasi dengan perasaan, dan mengolah tubuh sebagai instrumen ekspresi. Dalam konteks ini, tubuh menjadi teks yang dibaca dengan simbolisme dan estetika tinggi.
Di mata masyarakat Jawa tradisional, seks adalah bagian dari laku, bukan sekadar aktivitas naluriah. Seorang pria tidak dianggap dewasa hanya karena mampu bekerja atau menikah, tetapi karena ia telah menjalani pendidikan tubuh secara utuh, termasuk memahami seni meraba dan diraba.
Serat Centhini dan Erotisme sebagai Jalan Sunyi
Bila India memiliki Kamasutra karya Vatsyayana, maka Jawa memiliki Serat Centhini ensiklopedia budaya yang memuat ajaran kehidupan, spiritualitas, hingga erotika. Dalam naskah ini, percintaan dan seksualitas tidak hanya digambarkan secara eksplisit, melainkan juga dilapisi oleh filsafat hidup.
Dalam Centhini, hubungan seksual tidak dilepaskan dari konteks spiritual. Hubungan suami-istri, misalnya, digambarkan sebagai upaya menyatukan rasa dan cipta, bukan sekadar pelepasan syahwat. Seks menjadi arena di mana manusia belajar tentang kasih sayang, kehadiran, dan bahkan makna hidup.
Ini sejalan dengan konsep manunggaling kawula-Gusti—penyatuan makhluk dengan yang Ilahi—di mana persetubuhan bukan hanya reproduksi, tetapi refleksi dari pertemuan mikro-kosmos dan makro-kosmos. Tubuh perempuan adalah bumi, laki-laki adalah langit. Dalam pertemuan mereka, semesta bekerja.
Seksualitas sebagai Simbol Kosmis
Candi-candi seperti Sukuh dan Ceto di lereng Gunung Lawu memperlihatkan dengan terang simbol-simbol lingga dan yoni, kelamin laki-laki dan perempuan. Relief-relief erotis di candi tersebut bukan pornografi, melainkan ekspresi kesadaran kosmis akan pentingnya keseimbangan maskulin dan feminin.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo dan Premier Li Qiang Sepakati 12 MoU Strategis, Perkuat Kemitraan Indonesia–Tiongkok
Mutiara Pagi: Beruang (Bagian 1852)
Mobilitas Tinggi Gubernur Jatim: Perkuat Pertahanan, Investasi, hingga Kesejahteraan Masyarakat
Senin Ceria, Awal Pekan Penuh Energi Positif
Oase Teduh, Rumah Idaman yang Memeluk Kesejukan
Memimpin dengan Hati dan Strategi, Kunci Organisasi Berjaya
Hibah APBD untuk Siapa?
Lamongan Setelah 456 Tahun
Mutiara Pagi: Menepi Sejenak (Bagian 1853)
Sejarah sebagai Pedoman, Menulis untuk Bangsa dan Pendidikan Masa Depan