Pesantren bukan startup. Mereka tidak bisa mencari investor. Mereka bertahan karena iman dan kebersamaan. Tapi iman tak bisa membayar listrik, apalagi gaji ustaz.
Ketua BMPS Bekasi menyuarakan keresahan nasional:
<span;>> “Silakan saja bermimpi pendidikan gratis. Tapi coba jawab dengan jujur sanggupkah pemerintah membiayai semua anak negeri tanpa bantuan sekolah swasta?”
Jangankan sanggup, konsultasi soal kebijakan pun tak sempat dilakukan.
Kebijakan ini terasa seperti lagu lama: rakyat diminta pengertian, swasta diminta pengorbanan, pemerintah tinggal posting prestasi. Kalau begini terus, ijazah boleh gratis… tapi harga keadilan Mahal, Bli!
Maka, sebelum kamu minta ijazah, tolong tanya dulu: siapa yang bayar listrik sekolahmu?
Kalau bukan pemerintah, ya jangan seenaknya. Di balik selembar ijazah, ada peluh guru, ada jerih payah wali murid, dan doa-doa kiai yang mungkin malamnya tidak tidur, mikir gaji ustaz belum lunas.
Ijazah boleh gratis. Tapi logika? Jangan dikasih diskon
Mari tutup narasi ini dengan satu ucapan penuh semangat:
“Selamat datang di Negeri Sukarela, di mana semuanya gratis… asal bukan kamu yang bayar!”
Seruput lagi kopinya, Bli. Biar pahitnya nggak sendirian.
Artikel Terkait
Penuhi Undangan Presiden Hartford International University, Dai Kondang Jawa Barat Tata Sukayat Tekankan Pentingnya Nilai-Nilai Agama yang Humanis
Riska Junita, SH, MKn Terpilih Menjadi Anggota Luar Biasa Terbaik INI Kota Bandung
Mutiara Pagi: Janji Semesta (Bagian 1849)
Madrasah Du'at Angkatan 3: PWNU Jabar Kembali Cetak Kader Da'i Militan
Hari Jumat dalam Sejarah Nabi Muhammad: Hari Istimewa Umat Islam
Rahasia Membuat Seblak Enak dan Lezat ala Rumahan
Menghijaukan Pekarangan Rumah: Langkah Mudah Ciptakan Lingkungan Asri
Menjelang Harkopnas dan HJC ke-378, Ketua Terpilih Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Kejutan
Mutiara Pagi: Sibuk Melabeli (Bagian 1850)
Premanisme Birokrasi: Ancaman yang Lebih Berbahaya