Oleh Mohamad Sinal
Malam selalu menyimpan rahasia yang tak terbaca oleh mata. Hal tersebut hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang mengembara. Hanya bisa didapatkan melalui jalan ketakwaan.
Di antara sunyi semesta, ada satu malam yang penuh cahaya. Keberkahannya melampaui hitungan usia manusia: malam seribu bulan namanya. Malam yang dirahasiakan waktunya, namun dijanjikan kemuliaan di dalamnya.
Layaknya seorang kekasih yang menanti perjumpaan. Dengan penuh cinta kasih merindukannya dengan penuh ketulusan. Dalam senyapnya waktu, menembus ruang dan waktu.
Kemuliaan yang Menembus Batas Waktu
Allah berfirman dalam Surah Al-Qadr (97:3): "Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan." Frasa ini bukan sekadar bilangan, tetapi mengandung makna yang lebih dalam. Dalam ribuan bulan kehidupan manusia, tak satu pun malam memiliki bobot kemuliaan seperti Lailatul Qadar.
Malam itu adalah titik temu antara langit dan bumi. Malaikat turun membawa kedamaian, dan ampunan Allah lebih luas dari samudera. Malam tersebut, menyelubungi mereka yang mengetuk pintu ampunan-Nya.
Imam Syafi'i berpendapat, Lailatul Qadar kemungkinan besar jatuh pada malam ke-21 atau ke-23 Ramadan. Sedangkan Imam Abu Hanifah cenderung berpendapat, Lailatul Qadar lebih dekat dengan malam ke-27. Adapun Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal juga memiliki pandangan yang berbeda.
Namun demikian, kesepakatan mereka tetap satu: malam itu adalah rahasia Ilahi. Hanya dapat ditemukan oleh mereka yang menghidupkan Ramadan dengan ibadah dan ketakwaan. Hanya dapat dirasakan oleh mereka yang di dalam hatinya dipenuhi keyakinan dan keimanan akan ampunan Tuhan.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif menulis bahwa keutamaan malam tersebut adalah simbol dari kasih sayang Allah yang tak terhingga. Ia memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk mendapatkan pahala yang luar biasa. Seakan-akan mereka beribadah selama lebih dari 83 tahun tanpa terputus.
Selain itu, sebagai bukti tentang kemurahan Allah SWT. Betapa luas cinta dan kasih sayang-Nya. Betapa besar ampunan-Nya bagi mereka yang mengetuk pintu-pintu-Nya.
Cahaya yang Tak Pernah Padam
Cahaya malam seribu bulan bukanlah cahaya yang memancar dari bintang. Bukan pula sinar yang memantul dari rembulan. Ia adalah cahaya Sang Pencipta, yang hanya dapat dirasakan oleh hati yang terbuka, oleh jiwa yang mencari.
Ia adalah cahaya yang melampaui batas ruang dan waktu. Cahaya yang menerangi kehidupan mereka yang ingin berjalan di atas jalan yang lurus. Cahaya yang menyinari hati setiap hamba, yang melaksanakan ibadah dengan tulus.
Malam tersebut mengajarkan bahwa kemuliaan hidup tidak diukur dari panjangnya usia, tetapi dari keberkahan yang mengisinya. Seseorang bisa hidup seribu bulan, namun jika tanpa arti hanyalah sia-sia. Dengan satu malam ketika Lailatul Qadar turun, ia bisa mencapai derajat yang tak terbayangkan.
Artikel Terkait
Menjadi Ulul Albab
RUU TNI Triger Kemarahan Rakyat yang Sudah Tidak Percaya Rezim Prabowo
Prabowo dan Sri Mulyani Berbeda Sikap Terkait Bursa Saham
Mutiara Pagi: Wasilah Ramadan (Bagian 1788)
Hening yang Mengajarkan Makna
Karang Taruna Cibinong Gelar Santunan Anak Yatim dan Bagi Takjil di Bulan Ramadhan
Mutiara Pagi: Xerosis di Dalam Jiwa (Bagian 1789)
Aksi Anarki: Membangun Kota, Merobohkan Istana
SSB Crab United Cianjur, Sekolah Sepak Bola Berprestasi yang Siap Mengasah Bakat Generasi Muda
Beasiswa Indonesia Bangkit 2025 Kemenag Dibuka, Siapkan Dokumen dan Segera Daftar!