Bahasa Tak Bersuara yang Dituturkan Taqdir

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 12 Januari 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi. Takdir Mubram (Pexels/Bilal Furkan KOŞAR)
Ilustrasi. Takdir Mubram (Pexels/Bilal Furkan KOŞAR)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah kita merasakan bagaimana dunia tiba-tiba terasa sunyi?, Seperti ada sesuatu yang begitu akrab di hati, tiba-tiba terenggut tanpa aba-aba. Segalanya yang semula tampak utuh, kini menyisakan lubang yang tak kasat mata,

Ia datang tanpa permisi, menyelinap dalam kesunyian malam atau di tengah hiruk-pikuk siang. Ia mengendap, menanamkan rasa perih di dada, mengoyak tenang pikiran, dan meninggalkan jejak luka yang tak segera sembuh. Itulah yang biasa kita sebut dengan istilah *”KEHILANGAN”*

Ada saat dalam hidup ketika segalanya terasa runtuh; hati seakan tanpa penopang, dan jiwa terombang-ambing di tengah samudera kesedihan. Ia datang tanpa mengetuk pintu, membawa gelombang rasa yang menghantam palung terdalam hati.

Entah itu kepergian seseorang yang dicinta, lenyapnya harapan, atau hilangnya sesuatu yang kita anggap milik kita selamanya, kehilangan hadir dengan cara yang begitu sunyi, namun meninggalkan gema yang mengguncang seluruh keberadaan.

Di sudut waktu yang tak terjangkau oleh tangan manusia, ada detik-detik yang menyimpan tangis tanpa suara, rindu tanpa pertemuan, dan luka tanpa darah.

Kehilangan sering kali hadir sebagai kenyataan yang memisahkan kita dari apa yang kita cintai. Ia datang dalam sunyi, seperti angin malam yang dinginnya perlahan merayap, meruntuhkan pertahanan hati yang paling kokoh.

Kehilangan adalah bahasa tak bersuara yang dituturkan oleh takdir. Ia mengetuk pintu hati dengan pelan, tetapi menyisakan jejak yang dalam.

Betapa sering kita merasa memiliki dunia, menggenggamnya erat, hingga lupa bahwa apa yang kita pegang bukan milik kita. Dan ketika Sang Pemilik mengambil kembali apa yang Dia titipkan, kita terdiam dalam ketidakberdayaan, merasakan bagaimana kosongnya hidup tanpa apa yang telah hilang.

Pada hakikatnya kehilangan itu laksana tamu yang tak diundang, yang sering kali datang membawa pesan rahasia. Meski ia kerap memecah ketenangan, mengguncang kestabilan, dan menggoreskan kesedihan mendalam, ia sebenarnya adalah pelajaran yang diutus oleh Sang Pemilik Hidup.

Kehilangan, meski menyakitkan, adalah cara Allah menyapa hamba-Nya, cara yang tak selalu kita pahami, tetapi selalu sarat makna dan pesan mendalam.

Saat kehilangan menghampiri, kita sering terjebak dalam pertanyaan: Mengapa harus aku? Mengapa sekarang? Namun, pernahkah kita bertanya dengan cara yang berbeda: Apa yang Allah ingin aku pelajari dari ini? Apa hikmah yang tersembunyi di balik rasa sakit ini?

Kehilangan, sesungguhnya, adalah cermin yang memantulkan wajah sejati kita, apakah kita mampu menerima, bersabar, dan berserah, ataukah kita terjatuh dalam keluhan dan keputusasaan. Bukankah Allah telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali."
(QS. Al-Baqarah: 156)

Ayat ini adalah pengingat bahwa segala yang kita miliki, entah itu harta, keluarga, atau bahkan kehidupan kita sendiri, hanyalah titipan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X